PONTIANAK INFORMASI – Art Borneo kembali hadir dengan membawa isu ekologis, identitas, dan memori melalui karya seni kontemporer dari seniman Indonesia, Malaysia, dan Brunei Darussalam.
Pameran ini berlangsung di Gedung Aula Dekranasda Kalimantan Barat pada 6 hingga 16 September 2026, Senin (08/09/26).
Direktur Art Borneo, Annisa Fitri Yusuf, mengatakan pameran tahun ini mengusung tema kuratorial Khalayak: Arketipal Primodial yang menyoroti keterhubungan antara manusia, alam, dan kehidupan.
“Art Borneo untuk tahun ini mengusung tema tentang ekologis, identitas dan memori. Itu antara keterhubungan antara manusia, alam, dan kehidupan yang saling berkaitan,” ujar Annisa.
Menurutnya, tema ekologis dipilih karena relevan dengan kondisi yang tengah terjadi. Sejumlah karya yang ditampilkan mengangkat persoalan seperti kerusakan alam hingga kebakaran hutan.
“Tahun ini temanya memang fokus ke ekologis. Rata-rata karya seniman ini mengangkat tentang ekologis, kerusakan alam, terus kebakaran hutan dan sesuai yang ada saat ini,” jelas Annisa.

Annisa berharap karya-karya yang ditampilkan tidak hanya menjadi tontonan bagi masyarakat, tetapi juga dapat menjadi medium untuk memahami kondisi lingkungan dan persoalan yang terjadi saat ini.
Ia ingin pengunjung tidak berhenti hanya pada melihat karya, tapi turut membaca pesan yang disampaikan para seniman melalui karya mereka.
“Aku pengen Art Borneo ini bukan hanya dilihat sama masyarakat sebagai pameran saja, tetapi di balik semua karya-karya seniman itu bisa dibaca dan dipahami dan bisa melihat kondisi dan situasi kita saat ini,” jelasnya.
Pameran tersebut menghadirkan beragam bentuk karya, mulai dari instalasi, film, lukisan hingga fotografi. Art Borneo sendiri berfokus pada seni kontemporer yang dinilai lebih universal dan memungkinkan beragam isu disampaikan melalui medium seni.
Tahun ini, Art Borneo melibatkan 31 Seniman yang berasal dari Indonesia, Malaysia, dan Brunei Darussalam.
Annisa berharap Art Borneo dapat terus berlangsung dari tahun ke tahun dan menjadi ruang bagi para seniman untuk menampilkan karya sekaligus membuka ruang bagi masyarakat untuk memahami serta merespon berbagai persoalan melalui seni.
