Ketua Komisi III DPRD Gorut Viral Diduga Ejek Demonstran (Dok. Istimewa)
PONTIANAK INFORMASI, Nasional – Ketua Komisi III DPRD Kabupaten Gorontalo Utara (Gorut), Dheninda Chaerunnisa, menjadi sorotan publik dan viral di media sosial setelah sebuah video memperlihatkan dirinya diduga melakukan gestur mencibir saat menghadapi demonstran yang sedang berorasi di depan kantor DPRD. Video tersebut, yang awalnya diunggah oleh akun Instagram @feedgramindo, segera memicu gelombang kritik dan hujatan dari warganet yang menilai sikap tersebut tidak pantas dilakukan oleh seorang wakil rakyat.
Peristiwa ini terjadi saat massa aksi menggelar unjuk rasa terkait dugaan praktik calo dalam rekrutmen tenaga PPPK paruh waktu serta pelanggaran pembayaran upah di bawah UMR di Gorontalo Utara. Dalam momen penyerapan aspirasi tersebut, Dheninda terlihat berdiri bersama anggota DPRD lainnya. Beberapa kali ia tampak tersenyum, namun kemudian terekam mengeluarkan gestur yang ditafsirkan sebagai cibiran di hadapan massa. Sejumlah pengguna media sosial, dilansir dari Melihat Indonesia, menilai tindakannya tidak pantas. “Apakah hal seperti itu pantas dilakukan oleh DPRD? Banyak-banyak istighfar, Bu, hati-hati kena penyakit,” tulis salah satu akun.
Menanggapi kontroversi yang memanas, Dheninda Chaerunnisa segera memberikan klarifikasi dan bantahan melalui akun media sosial pribadinya dan kepada awak media. Ia mengaku kaget dengan viralnya potongan video tersebut dan menegaskan bahwa kejadian sebenarnya telah dipelintir dari konteks aslinya. Ia juga membantah keras tudingan bahwa gesturnya ditujukan untuk mengejek para demonstran.
“Pas aku ngomong ada semua ko videonya tapi dipelintir aku jadi dihujat se-Indonesia gara-gara hal itu. Bahkan sudah di luar daripada konteks,” ungkap Dheninda seperti dikutip dari detikcom. Politisi muda dari Partai NasDem ini menegaskan tidak memiliki niat sedikit pun untuk mencibir peserta aksi. “Jadi enggak ada sama sekali niatku mencibir. Kalau pun aku mau mencibir itu paling sudah dari awal. Aku itu senyum terus, ada videonya kok,” tambahnya, merujuk pada rekaman keseluruhan.
Klarifikasi lebih lanjut disampaikan Dheninda, di mana ia menjelaskan bahwa gestur wajah yang terekam dan menjadi viral tersebut justru merupakan ekspresi spontan saat dirinya berkomunikasi dengan karyawan orang tuanya yang kebetulan berada di lokasi. Dilansir dari TribunNews.com, Dheninda menjelaskan, “Gestur yang dianggap mengejek demonstran tersebut bukan ditujukan kepada peserta aksi, melainkan kepada karyawan orang tuanya yang kebetulan berada di lokasi.”
Meskipun demikian, ia tetap menyadari dampak dari video yang telah beredar luas. Ia menyatakan permohonan maaf kepada pihak yang merasa tersinggung atas kesalahpahaman tersebut. “Saya ingin mengklarifikasi terkait dengan video saya yang beredar lalu screenshot sama berbagai media yang katanya saya mencibir orator pada saat demo. Dan teman-teman saya mohon untuk jangan terus dipelintir-pelintir ini sebuah kesalahpahaman,” tuturnya, seperti dilansir dari detikcom.
Viralnya video ini turut menuai desakan dari berbagai pihak. Sejumlah pihak meminta agar DPRD Gorontalo Utara segera memberikan klarifikasi resmi guna menjaga marwah lembaga legislatif di daerah itu. Selain itu, ada pula desakan kepada petinggi Partai NasDem agar turut menertibkan anggotanya.
Massa aksi juga dikabarkan sempat merasa dilecehkan dan menimbulkan kericuhan kecil di lokasi akibat tindakan Dheninda, seperti yang termuat dalam narasi unggahan yang viral. Publik secara umum mengecam sikap yang dianggap tidak menunjukkan keteladanan seorang pejabat publik yang seharusnya menampung aspirasi rakyat dengan bijak dan hormat.
Di tengah badai kritik, Dheninda memastikan komitmennya untuk mengusut tuntas dugaan calo dalam rekrutmen PPPK paruh waktu yang menjadi salah satu tuntutan utama demonstran. Ia berharap isu gestur viral ini tidak mengalihkan fokus dari masalah substansial yang tengah diperjuangkan oleh massa aksi.
“Saya berkomitmen mengusut tuntas dugaan calo dalam rekrutmen PPPK paruh waktu ini. Siapa pelakunya. Saya pun menegaskan tidak pernah menuduh calo adalah aktivis. Saya harap tidak ada lagi yang memelintir pernyataan saya,” tegasnya, sebagaimana dilaporkan oleh Viva. Ini menunjukkan bahwa meskipun klarifikasi telah diberikan, kasus dugaan calo tetap menjadi prioritas kerja DPRD.
