Foto: Instagram
PONTIANAK INFORMASI, Nasional – Aparat Pengamanan Presiden Republik Indonesia (Paspampres) menjadi sorotan setelah ditegur keras oleh sejumlah awak media di Inggris. Peristiwa ini terjadi saat rombongan Presiden Prabowo Subianto tengah menjalani rangkaian kunjungan kenegaraan ke London, Inggris, beberapa waktu lalu. Video singkat yang menampilkan ketegangan antara petugas Paspampres dan jurnalis lokal kemudian menyebar luas di media sosial dan menjadi bahan perbincangan publik.
Dalam rekaman yang beredar, tampak seorang personel Paspampres meminta seorang reporter untuk menghentikan perekaman dan tidak mendekat ke area yang sedang dipersiapkan untuk pergerakan kendaraan kepresidenan. “Kamu dari mana, maaf (tidak boleh mendekat), ok,” ujar petugas tersebut dalam bahasa Inggris. Namun, permintaan itu langsung dibalas tegas oleh awak media yang menilai tindakan Paspampres bertentangan dengan hukum setempat. “Di Inggris, kami diperbolehkan merekam di tempat umum. Kamu tidak bisa memindahkan kami. Kamu sedang melanggar hukum sekarang,” tegas sang jurnalis.
Perdebatan singkat tersebut terjadi ketika Paspampres melakukan prosedur clearance atau sterilisasi area yang akan dilalui rombongan presiden, sebuah langkah standar dalam protokol pengamanan kepala negara. Namun, beberapa jurnalis Inggris menilai bahwa pembatasan ruang peliputan di area publik mengganggu kerja jurnalistik mereka, karena di Inggris merekam di ruang terbuka umum pada dasarnya diperbolehkan selama tidak melanggar privasi atau keamanan nasional.
Insiden ini menyoroti perbedaan budaya dan aturan main antara standar keamanan presiden Indonesia dengan prinsip kebebasan pers yang kuat di Inggris. Paspampres dikenal menjalankan prosedur pengamanan yang ketat dan minim kompromi, sementara media Inggris sangat sensitif terhadap upaya pembatasan ruang peliputan, terutama di area yang secara hukum dinyatakan sebagai ruang publik.
Setelah terjadi perdebatan, petugas Paspampres tampak mengalah dan membuka kembali akses bagi awak media untuk tetap berada di lokasi, meski tetap menjaga jarak tertentu dari rombongan presiden. Tindakan ini kemudian dianggap sebagai upaya menyeimbangkan kebutuhan keamanan dengan hak publik untuk mendapatkan informasi melalui pemberitaan.
Insiden ini menarik perhatian publik Indonesia dan Inggris sekaligus, terutama karena terjadi di tengah upaya pemerintah memperkuat hubungan bilateral dan kemitraan strategis antara Indonesia dan Inggris. Di sisi lain, peristiwa ini juga memicu diskusi tentang bagaimana aparat pengamanan presiden perlu menyesuaikan protokol dengan konteks hukum dan budaya pers di negara tuan rumah, tanpa mengorbankan keselamatan kepala negara.
Hingga kini, belum ada pernyataan resmi terperinci dari Kepala Paspampres atau Istana terkait insiden tersebut, namun beberapa pihak menilai kejadian ini dapat dijadikan bahan evaluasi untuk menyelaraskan prosedur pengamanan dengan norma kebebasan pers di negara-negara demokratis seperti Inggris. Di kalangan jurnalis, momen ini dijadikan contoh bahwa teguran tegas terhadap pembatasan peliputan di ruang publik tetap menjadi bagian penting dalam menjaga independensi pers, meski yang dihadapi adalah aparat pengamanan presiden.
