Foto: ANTARA/Iggoy el Fitra
PONTIANAK INFORMASI, Nasional – Banjir besar melanda sejumlah wilayah di Sumatra, khususnya Sumatera Utara, Sumatera Barat, dan Riau, pada akhir November 2025. Hujan ekstrem yang berlangsung selama lebih dari dua hari menyebabkan banjir bandang dan tanah longsor, menghancurkan jembatan, merendam ratusan rumah, dan memaksa ribuan warga mengungsi. Menurut Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), sebanyak 2.851 orang dari empat kabupaten di Sumatera Utara terpaksa mengungsi akibat bencana ini, yang disebut sebagai kejadian alam paling parah dalam beberapa dekade terakhir.
Jaringan telekomunikasi dan listrik di sejumlah wilayah terdampak sempat terputus, membuat komunikasi dengan warga yang terisolir menjadi sangat sulit. Di Tapanuli Tengah, seorang kerabat warga yang mengungsi ke hutan mengungkapkan kekhawatirannya. “Bupati, tolong kami sini. Kami terjebak, tidak ada jalan keluar,” demikian seruan yang diterima dari pengungsi hutan Hutanon. Kondisi ini diperparah dengan minimnya akses bantuan dan evakuasi yang terhambat oleh cuaca ekstrem.
Korban jiwa terus bertambah, dengan jumlah korban yang telah terkonfirmasi mencapai puluhan orang, terutama di wilayah Tapanuli Tengah, Tapanuli Selatan, Tapanuli Utara, dan Kota Sibolga. “Sibolga belum pernah mengalami bencana seperti ini sejak empat dekade lalu,” ujar Tanti, warga Sibolga, dilansir dari BBC News Indonesia. Ia menambahkan bahwa banjir kali ini datang dari arah gunung, bukan hanya dari pantai, yang membuat kejadian ini sangat mengejutkan.
Penyebab banjir besar ini menurut BNPB adalah adanya dua siklon tropis, Siklon Tropis OTO dan Siklon 95B, yang terbentuk di Laut Andaman dan Selat Malaka. “Kedua sistem cuaca ini memicu curah hujan dan angin kencang di bagian utara Sumatera,” jelas Abdul Muhari, Kepala Pusat Data Informasi Komunikasi BNPB. Namun, beberapa organisasi lingkungan seperti Walhi Sumatera Utara menyebut bahwa kerusakan hutan akibat penebangan liar dan aktivitas pertambangan emas PT Agincourt Resources turut memperparah dampak banjir. “Deforestasi di hulu Batang Toru sangat tinggi, kami menduga ini penyebab utama banjir saat ini,” kata Rianda, Direktur Eksekutif Walhi Sumatera Utara.
Kondisi di lapangan sangat memprihatinkan. Warga yang mengungsi ke hutan tidak membawa apapun, termasuk bantuan yang baru saja diterima dari pemerintah daerah. “Mereka naik bukit menyelamatkan diri, sehingga mereka bisa sampai di gunung itu,” tutur Rose Zebua, kerabat warga yang mengungsi. Sementara itu, jembatan penghubung di Gunung Nago, Padang, terputus dan terseret arus banjir, memperparah isolasi warga yang terdampak.
Evakuasi dan distribusi bantuan terus dilakukan meskipun menghadapi tantangan cuaca ekstrem dan akses yang terbatas. BMKG terus mengimbau masyarakat untuk tetap siaga terhadap cuaca ekstrem dan dampak lanjutannya. “Hujan akan terus turun, potensi banjir dan longsor masih tinggi,” lanjut Abdul Muhari. Masyarakat diimbau untuk menjauhi area rawan longsor dan memantau informasi resmi dari BNPB dan BMKG.
Bencana ini menjadi pengingat betapa rapuhnya mitigasi bencana di Sumatra, terlebih ketika dipadukan dengan faktor lingkungan dan cuaca ekstrem. Kepedulian dan respons cepat dari pemerintah serta masyarakat sangat dibutuhkan untuk membantu warga yang terdampak dan memulihkan kondisi di wilayah yang terkena banjir.
