PONTIANAK INFORMASI – Musim buah yang tengah berlangsung di Kota Pontianak membawa dampak pada meningkatnya volume sampah. Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Pontianak mencatat timbulan sampah naik sekitar 20 persen dalam beberapa waktu terakhir, didominasi limbah organik seperti kulit durian dan buah-buahan lainnya.
Kepala DLH Kota Pontianak, Usmulyono, mengatakan lonjakan sampah membuat pihaknya harus menambah ritasi pengangkutan, mengerahkan armada tambahan, hingga memberlakukan lembur bagi petugas kebersihan agar sampah tidak menumpuk di tempat pembuangan sementara (TPS).
“Tahun ini luar biasa. Semua buah turun pada bulan-bulan ini, sehingga kami mendapat limpahan pekerjaan. Paling tidak sekarang ada peningkatan sekitar 20 persen,” kata Usmulyono.
Ia menjelaskan, peningkatan volume sampah bukan hanya menambah beban pengangkutan, tetapi juga mempercepat proses penanganan agar tidak terjadi penumpukan. Bahkan di beberapa lokasi, tenaga kebersihan harus dibantu alat berat untuk mengangkut tumpukan sampah.
“Kami terpaksa menambah armada angkutan, jumlah ritasi, dan petugas kami lemburkan. Kadang-kadang di satu daerah tenaga manusia tidak cukup lagi, sehingga kami sudah menggunakan alat berat,” ujarnya.
Usmulyono menyebut persoalan sampah masih menjadi tantangan besar di Pontianak. Berdasarkan data Sistem Informasi Pengelolaan Sampah Nasional (SIPSN) 2025, timbulan sampah di Kota Pontianak mencapai 480,213 ton per hari. Dari jumlah tersebut, pengurangan sampah baru mencapai 18,87 persen sehingga sekitar 377,83 ton sampah masih harus dibuang ke Tempat Pemrosesan Akhir (TPA) setiap hari.
Untuk menekan jumlah sampah yang masuk ke TPA, DLH terus mengembangkan Tempat Pengolahan Sampah Reduce, Reuse, Recycle (TPS 3R) di setiap kecamatan. Melalui sistem ini, sampah dipilah dan diolah terlebih dahulu, sehingga hanya residu yang dibawa ke TPA.
“Wujudnya TPS 3R. Jadi sampah yang masuk kita kurangi, residunya saja yang kita buang,” jelasnya.
Menurut Usmulyono, keberhasilan pengelolaan sampah tidak hanya bergantung pada pemerintah. Masyarakat juga memiliki peran penting dengan mulai memilah sampah dari rumah, mengolah sampah organik menjadi kompos, serta menyalurkan sampah yang masih memiliki nilai ekonomi melalui bank sampah.
“Pengolahan sampah harus dimulai dari rumah dan di tingkat wilayah. Kalau residunya saja yang dibuang, beban pengangkutan dan TPA akan jauh berkurang,” pungkasnya.
