PONTIANAK INFORMASI- Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Pontianak mencatat 42 kasus baru HIV pada 2026. Seluruh kasus tersebut merupakan warga Kota Pontianak yang telah dipastikan positif dan kini menjalani pengobatan.
Kepala Dinkes Kota Pontianak, Saptiko, meluruskan informasi yang beredar di media sosial terkait angka lebih dari 100 kasus HIV/AIDS di Pontianak. Menurutnya, angka tersebut belum tentu seluruhnya merupakan warga Pontianak karena banyak pasien dari daerah lain yang datang untuk menjalani pemeriksaan maupun pengobatan di Kota Pontianak.
“Untuk tahun ini kami menemukan sekitar 42 orang warga Kota Pontianak yang positif HIV. Sementara angka yang diberitakan sebelumnya hingga lebih dari 100 kasus itu belum tentu seluruhnya warga Pontianak, karena banyak yang datang berobat atau melakukan pemeriksaan di sini,” kata Saptiko, Selasa (21/7/26)
Ia mengatakan penanganan HIV tidak hanya berfokus pada pengobatan, tetapi juga pencegahan melalui perubahan perilaku.
Menurutnya, salah satu langkah utama adalah menghindari hubungan seksual berisiko bagi mereka yang belum menikah. Selain itu, Dinkes juga mendorong pemeriksaan kesehatan bagi calon pengantin sebelum menikah.
“Kami memiliki program pemeriksaan calon pengantin, termasuk pemeriksaan HIV. Harapannya, pasangan mengetahui kondisi kesehatannya sebelum menikah,” ujarnya.
Bagi pasangan yang sudah menikah, Saptiko mengingatkan pentingnya menjaga kesetiaan kepada pasangan sebagai salah satu cara mencegah penularan HIV.
“Kalau melakukan hubungan di luar pasangan yang sah, risikonya bisa tertular HIV. Kemudian penyakit itu bisa menular lagi kepada pasangan di rumah,” katanya.
Saptiko memastikan seluruh layanan pengobatan HIV telah tersedia di puskesmas yang ditunjuk. Pasien tidak hanya menerima obat antiretroviral (ARV), tetapi juga pendampingan dan edukasi agar tetap menjalani pengobatan secara rutin serta menghindari perilaku yang berisiko menularkan HIV kepada orang lain.
“Kami berikan pengobatan sekaligus edukasi agar mereka memperbaiki perilaku yang berisiko. Dengan pengobatan yang teratur, kualitas hidup pasien bisa tetap terjaga,” ujarnya.
