(Foto : ANTARA/AHMAD SUBAIDI)
PONTIANAK INFORMASI, Nasional – Setelah istilah “Rojali” atau rombongan jarang beli menjadi pembahasan hangat, kini muncul fenomena baru yang dikenal dengan sebutan “Rohana”, yakni rombongan hanya nanya. Istilah ini merujuk pada kelompok pengunjung pusat perbelanjaan yang datang hanya untuk bertanya atau melihat-lihat tanpa membeli barang, dan kehadirannya dinilai semakin marak di berbagai mal Indonesia.
Menurut laporan CNBC Indonesia, Ketua Umum Asosiasi Pengelola Pusat Belanja Indonesia (APPBI), Alphonzus Widjaja, memandang fenomena “Rohana” sebagai hal yang wajar dalam transaksi di pusat perbelanjaan offline. “Saya kira di pusat perbelanjaan itu kan sifatnya adalah offline. Kalau offline itu kan pasti terjadi interaksi, tawar-menawar, nanya harga dan sebagainya. Saya kira itu umum, hal-hal yang wajar lah begitu,” ujar Alphonzus.
Namun, meski dianggap wajar, keberadaan “Rohana” terbukti berdampak pada sektor ritel. Alphonzus menuturkan bahwa tren pengunjung yang hanya bertanya atau sekadar melihat-lihat telah menurunkan omzet penjualan tenant di mal. “Pasti (ada penurunan omzet), karena kan sekarang masyarakat kelas menengah bawah cenderung beli barang atau produk yang harga satuannya, atau unit price-nya murah. Itu terjadi penurunan, pasti,” ungkapnya, dikutip dari CNBC Indonesia.
Dampak negatif tidak dirasakan merata di semua sektor. Ketua Umum Himpunan Peritel dan Penyewa Pusat Perbelanjaan Indonesia (HIPPINDO), Budihardjo Iduansjah, menyebutkan bahwa sektor makanan dan minuman justru diuntungkan dari fenomena ini. “Yang diuntungkan dari rojali sebenarnya ya sektor makanan dan minuman… omzetnya sudah mulai naik lagi, ya sekitar 5%-10% per bulan,” kata Budi pada acara Inabuyer Expo 2025.
Lebih lanjut, Budi menjelaskan, pengunjung yang masuk kategori “Rojali” dan “Rohana” biasanya menghabiskan waktu di mal untuk mencari hiburan dan berinteraksi sosial. Setelah selesai berkeliling tanpa berbelanja, mereka cenderung singgah di restoran untuk makan atau sekadar minum sebagai pengisi waktu luang.
Fenomena “Rohana” dan “Rojali” juga diidentifikasi sebagai dampak turunnya daya beli masyarakat, bahkan pada kalangan atas. Menteri Perdagangan Budi Santoso menyebutkan, pola belanja yang kian selektif menyebabkan masyarakat memilih untuk membandingkan harga, menawar, atau sekadar menanyakan produk tanpa selalu membeli. “Kita tuh bebas mau beli di online, mau beli di offline. Dari dulu fenomena itu (rojali) juga ada. Namanya orang dari dulu ‘kan juga begitu. Orang mau belanja, dicek dulu, yang ingin lihat barangnya bagus atau tidak, harganya seperti apa,” terangnya kepada.
Meski demikian, pengelola pusat perbelanjaan tetap optimis, memprediksi pertumbuhan mal secara nasional pada tahun 2025 masih akan positif, meskipun hanya sebesar satu digit atau di bawah 10%. Target pertumbuhan omzet yang semula diharapkan mencapai 20-30% pun dinilai sulit untuk diwujudkan di tengah fenomena ini.
Fenomena “Rohana” dan “Rojali” ini menandai pergeseran fungsi mal yang kini bukan lagi sekadar tempat berbelanja, melainkan juga sebagai sarana hiburan, edukasi, dan interaksi sosial. Pengelola mal pun dituntut untuk beradaptasi, menciptakan konsep dan pengalaman baru agar tetap relevan dan menarik minat pengunjung di situasi ekonomi yang menantang.
