Presiden Donald Trump Bertemu King Charles III (Foto : The Royal Family)
PONTIANAK INFORMASI, Internasional – Presiden Amerika Serikat Donald Trump menjalani kunjungan negara keduanya ke Inggris, dan pada Rabu (17/9/2025) bertemu dengan Raja Charles III di Kastil Windsor dalam sebuah upacara kenegaraan yang penuh kemegahan. Kunjungan ini menjadi sorotan karena merupakan kunjungan kedua Trump yang mendapatkan sambutan resmi kerajaan, setelah kunjungannya pada 2019 di masa pemerintahan Ratu Elizabeth II. Trump dan istrinya Melania disambut oleh Pangeran William dan Putri Kate sebelum bertemu Raja Charles dan Ratu Camilla.
Acara yang berlangsung di Kastil Windsor itu menampilkan pawai kuda kereta kerajaan, sambutan militer megah dengan 1.300 personel Angkatan Darat, Angkatan Laut, dan Angkatan Udara, serta pertunjukan udara pasukan Arrows dan jet tempur lainnya, yang menjadi acara terbesar untuk kunjungan negara di Inggris dalam beberapa dekade terakhir.
Dalam pidato kenegaraan saat jamuan makan malam, Raja Charles menekankan solidaritas dengan Amerika Serikat, terutama mengenai konflik di Ukraina. Ia menyebut, “Dalam perang dunia kita melawan kekuatan tirani. Hari ini, saat tirani mengancam lagi, kami dan sekutu berdiri mendukung Ukraina demi menghalau agresi dan menjaga perdamaian”. Sebaliknya, Presiden Trump tidak membahas Ukraina, melainkan menyoroti pemulihan ekonomi di Amerika Serikat di bawah kepemimpinannya. “Setahun lalu kami adalah negara yang sangat buruk, kini kami adalah negara terpanas di dunia,” katanya.
Trump mengungkapkan kedekatannya dengan Raja Charles dengan berkata, “Dia adalah teman lama saya, semua orang menghormati dan mencintainya.” Dalam kunjungan ini juga diumumkan kesepakatan investasi teknologi bernilai miliaran dolar antara kedua negara. Trump menyatakan, “Ini adalah kehormatan dan hubungan kami sangat baik”.
Sementara itu, di luar kastil dan pusat kota London, ribuan pengunjuk rasa menggelar aksi menolak kehadiran Trump di Inggris, mengibarkan spanduk anti-Trump dan bendera Palestina sebagai tanda protes terhadap kebijakan dan kepemimpinan Trump sebelumnya.
Kunjungan ini juga merupakan momentum penting bagi hubungan Inggris-Amerika, dengan Perdana Menteri Keir Starmer yang turut berperan dalam mengatur kunjungan ini sebagai usaha memperkuat kerja sama terutama dalam hal perdagangan dan dukungan terhadap Ukraina.
Dengan kemegahan dan tradisi kerajaan yang mengiringi serta diskusi politik yang terselip dalam pidato masing-masing pemimpin, pertemuan King Charles dan Donald Trump menjadi sorotan dunia sebagai representasi kemitraan yang unik dan dinamis antara Inggris dan Amerika Serikat.
