Foto: Pemerintah Aceh
PONTIANAK INFORMASI, Internasional – Bencana banjir dan longsor yang melanda Sumatra pada akhir November 2025 menyisakan duka mendalam bagi masyarakat setempat. Namun, di tengah keterbatasan logistik dan keterlambatan bantuan dari pusat, bantuan kemanusiaan dari Malaysia menjadi sorotan utama. Bantuan internasional ini tiba lebih cepat dibandingkan bantuan dari pemerintah pusat Indonesia, menimbulkan berbagai reaksi di kalangan warga dan aktivis kemanusiaan.
Bantuan dari Malaysia dikirimkan melalui jalur udara dan laut, dengan dua ton obat-obatan dan alat kesehatan yang dikirim menggunakan pesawat kargo khusus dari Kuala Lumpur menuju Bandara Sultan Iskandar Muda, Aceh. Bantuan tersebut diterima oleh Posko Penanggulangan Bencana Hidrometreologi Aceh pada Sabtu (29/11) sore dan langsung didistribusikan ke wilayah yang paling parah terdampak bencana.
Menurut pernyataan resmi dari posko bencana, “Bantuan dari Malaysia mungkin akan datang besok pagi atau sore, dan akan segera didistribusikan kepada masyarakat kita,” ujar Mualem dalam konferensi pers yang dikutip dari Kompas. Kecepatan bantuan Malaysia ini menjadi sorotan, terutama ketika warga merasa bahwa respons dari pemerintah pusat terlalu lambat dalam menyalurkan bantuan logistik dan medis.
Relawan dan tim Malaysia turut membantu proses evakuasi, pelayanan kesehatan, dan pendirian dapur umum di lokasi bencana. Kerja sama antara lembaga kemanusiaan Malaysia, pemerintah daerah, serta posko-posko tanggap darurat memastikan distribusi bantuan berjalan cepat dan tepat sasaran. Bantuan ini mencakup kebutuhan dasar seperti makanan, air bersih, obat-obatan, dan perlengkapan darurat lainnya.
Kemlu Malaysia juga mengimbau warganya di Sumatra Barat untuk mengikuti instruksi otoritas setempat dan menghindari area rawan banjir dan longsor, khususnya jalur Padang-Bukittinggi di kawasan Lembah Anai. “Warga Malaysia di wilayah terdampak diminta melaporkan kondisinya ke Konsulat Jenderal untuk memfasilitasi bantuan dan komunikasi tepat waktu,” demikian keterangan Kemlu Malaysia yang dikutip dari Bernama.
Kehadiran bantuan Malaysia ini menuai apresiasi dari banyak pihak, namun juga menimbulkan kritik terhadap lambatnya respons pemerintah pusat. “Narasi kebangsaan retak, bantuan Malaysia tiba lebih cepat, pemerintah dinilai lamban menangani bencana Sumatera,” tulis H Rijal dalam laporan Media BBC. Warga dan aktivis menilai bahwa kecepatan bantuan dari negara tetangga menjadi cerminan dari urgensi dan profesionalisme dalam penanganan bencana.
