Lamine Yamal. Reuters
Lamine Yamal. Reuters
Teheran – Sebuah drone peledak yang dilaporkan diluncurkan Iran ke arah pangkalan militer Amerika Serikat (AS) di kawasan Teluk dalam 24 jam terakhir diketahui membawa gambar bintang sepak bola Spanyol, Lamine Yamal, yang sedang memegang bendera Palestina.
Foto yang ditempel pada badan drone tersebut merupakan gambar asli yang diambil saat perayaan gelar La Liga Barcelona pada Mei lalu, ketika Yamal memang terlihat membawa bendera Palestina.
Menurut laporan akun pemantau intelijen Open Source Intel di platform X, drone itu juga memuat tulisan dalam bahasa Persia dan Inggris.
“Pendukung Palestina dan Iran adalah juara dunia,” demikian bunyi tulisan yang terlihat pada badan drone.
Di waktu yang hampir bersamaan, sebuah foto lain yang menampilkan Lamine Yamal beredar luas di media sosial. Dalam gambar tersebut, pemain timnas Spanyol itu tampak mengenakan bendera Palestina sambil berdiri di samping trofi Piala Dunia FIFA di New Jersey.
Namun, hasil pemeriksaan digital oleh AFP menyatakan foto tersebut bukan gambar asli, melainkan hasil rekayasa menggunakan teknologi kecerdasan buatan (AI).
AFP menemukan adanya watermark SynthID milik Google pada gambar tersebut, yang menunjukkan foto itu dihasilkan dengan AI. Verifikasi terhadap foto-foto asli perayaan gelar juara Spanyol juga menunjukkan Yamal sebenarnya mengenakan jersey resmi timnas Spanyol bertuliskan Campeones, tanpa menggunakan bendera Palestina.
Peristiwa ini kembali menyoroti maraknya penggunaan foto asli maupun gambar hasil manipulasi AI dalam penyebaran narasi di media sosial terkait konflik di Timur Tengah.
Kemunculan foto Yamal pada drone Iran terjadi di tengah meningkatnya kembali ketegangan antara Iran dan Amerika Serikat. Kedua negara dilaporkan saling melancarkan serangan udara setelah gencatan senjata berakhir.
Amerika Serikat disebut menyerang sejumlah lokasi strategis di Iran, sementara Teheran melancarkan serangan balasan yang menyasar pangkalan-pangkalan militer AS di kawasan Timur Tengah. Eskalasi tersebut turut menyeret sejumlah negara di kawasan yang menjadi lokasi pangkalan militer Amerika Serikat.
