Donald Trump (Foto : Getty Images)
Donald Trump (Foto : Getty Images)
Washington – Presiden Amerika Serikat Donald Trump memperingatkan Iran akan dimintai pertanggungjawaban atas setiap serangan yang dilakukan kelompok Houthi di Yaman terhadap kepentingan Arab Saudi maupun kawasan Timur Tengah.
Pernyataan itu disampaikan Trump melalui akun Truth Social, Kamis (23/7), menyusul serangan Houthi terhadap dua kapal tanker minyak milik Arab Saudi di Laut Merah.
Trump mengaku kecewa karena Houthi kembali melancarkan serangan setelah sebelumnya dinilai bersikap lebih menahan diri, termasuk saat konflik antara Amerika Serikat dan Iran berlangsung.
“Setahun yang lalu, Amerika Serikat menyerang Houthi dengan sangat dahsyat karena campur tangan mereka dalam perdagangan, dengan menembaki kapal-kapal. Sejak saat itu, dan selama konflik kami dengan Iran, mereka bertindak sangat bertanggung jawab,” tulis Trump.
Namun, menurut Trump, situasi berubah setelah kelompok tersebut kembali menyerang kapal Arab Saudi.
“Sayangnya, sekarang mereka mulai lagi, menembaki dua kapal Arab Saudi tadi malam. Jika mereka melakukan ini lagi, Amerika Serikat akan meminta pertanggungjawaban Iran, karena Houthi adalah proksi dan/atau kaki tangan Iran,” tegasnya.
Trump juga memperingatkan bahwa Iran maupun Houthi akan menghadapi “hukuman militer besar” apabila serangan serupa kembali terjadi.
Sementara itu, juru bicara militer Houthi, Yahya Saree, mengonfirmasi pihaknya telah menyerang dua kapal tanker minyak Arab Saudi bernama Encelia dan Layla pada Rabu (22/7).
Menurut Saree, serangan dilakukan karena kedua kapal tersebut dianggap melanggar blokade maritim yang diberlakukan Houthi.
“Kami menargetkan dua kapal tanker minyak Saudi bernama Encelia dan Layla karena pelanggaran mereka terhadap keputusan blokade yang dikeluarkan angkatan bersenjata,” ujar Saree.
Hubungan Houthi dan Arab Saudi kembali memanas setelah pemerintah Yaman yang didukung Riyadh melancarkan serangan ke Bandara Sanaa pada 13 Juli lalu.
Houthi menuding Arab Saudi berada di balik serangan tersebut karena pesawat yang menjadi sasaran disebut membawa sejumlah pejabat Houthi yang baru menghadiri pemakaman mantan Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei.
Sebagai respons, pada 20 Juli Houthi mengumumkan blokade maritim terhadap Arab Saudi dengan alasan menerapkan prinsip “mata ganti mata”. Kelompok itu menuduh Riyadh selama bertahun-tahun melakukan pengepungan terhadap wilayah yang mereka kuasai serta menghambat akses melalui pelabuhan dan bandara.
Pemerintah Arab Saudi membantah tuduhan tersebut. Sementara itu, meningkatnya ketegangan antara Houthi, Iran, Amerika Serikat, dan Arab Saudi dikhawatirkan semakin memperburuk situasi keamanan di kawasan Laut Merah yang menjadi jalur perdagangan internasional penting.
