Foto: Reuters
PONTIANAK INFORMASI, Internasional – Sebuah pesawat kecil yang membawa anggota Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) Kolombia jatuh di kawasan pegunungan dekat perbatasan timur negara itu, menewaskan seluruh 15 orang di dalamnya. Insiden terjadi pada Rabu (28/1/2026) di wilayah pedesaan departemen Norte de Santander, timur laut Kolombia, ketika pesawat bermesin ganda milik maskapai negara Satena hilang dari radar beberapa menit sebelum dijadwalkan mendarat di Ocana.
Dilansir dari Al Jazeera, pesawat tersebut lepas landas dari kota perbatasan Cucuta menuju Ocana, dengan jarak tempuh sekitar 23 menit. Menurut catatan pengontrol lalu lintas udara, pesawat mengalami penurunan ketinggian tiba‑tiba 11 menit sebelum waktu pendaratan yang dijadwalkan, lalu kehilangan kontak sama sekali.
Di antara korban tewas terdapat anggota DPR Kolombia, Diogenes Quintero, 36 tahun, yang dikenal sebagai wakil rakyat untuk kursi khusus korban konflik bersenjata di wilayah Catatumbo. Turut berada dalam pesawat itu adalah Carlos Salcedo Salazar, seorang tokoh masyarakat yang sedang mencalonkan diri sebagai anggota kongres pada pemilihan mendatang.
Kementerian Transportasi Kolombia mengonfirmasi bahwa tidak ada satu pun penumpang atau awak yang selamat dari kecelakaan tersebut. “Negara ini berduka,” tulis kementerian dalam pernyataan daring yang dikutip Al Jazeera, menekankan bahwa insiden ini mengguncang masyarakat setempat yang sangat mengandalkan penerbangan domestik di daerah pegunungan dan hutan lebat.
Penyebab pasti jatuhnya pesawat masih dalam tahap investigasi, meski beberapa laporan menyebut cuaca buruk dan medan pegunungan yang sulit sebagai faktor yang diduga kuat. Kondisi hutan lebat dan akses jalan yang terbatas sempat menghambat tim penyelamat mencapai lokasi jatuhnya pesawat, sehingga proses evakuasi jenazah memakan waktu lebih lama.
Diogenes Quintero dikenal sebagai aktivis hak asasi manusia yang vokal membela korban konflik bersenjata di wilayah perbatasan dengan Venezuela. Kehilangan sosoknya dinilai sebagai pukulan berat bagi komunitas korban konflik dan kelompok advokasi hak asasi di Kolombia, yang menganggap Quintero sebagai salah satu suara paling lantang di parlemen.
Pemerintah Kolombia menyatakan akan mempercepat investigasi kecelakaan sekaligus meninjau ulang standar keselamatan penerbangan domestik, terutama untuk rute‑rute di daerah terpencil. Sementara itu, keluarga korban dan masyarakat di Norte de Santander menggelar doa bersama dan aksi penghormatan untuk mengenang 15 orang yang tewas dalam insiden tragis tersebut.
