(Foto : X @Persian_Culer)
PONTIANAK INFORMASI, Internasional – Presiden Polandia Karol Nawrocki menunjukkan kemarahan yang mendalam terhadap tindakan sejumlah suporter sepak bola Israel yang mengibarkan spanduk kontroversial selama pertandingan antara tim Israel, Maccabi Haifa, dan Polandia pada Kamis, 14 Agustus 2025. Spanduk tersebut bertuliskan “Pembunuh sejak 1939,” yang menurut Nawrocki telah menghina memori rakyat Polandia, khususnya korban Perang Dunia Kedua dan tiga juta orang Yahudi yang tewas selama pendudukan Nazi Jerman.
Dalam sebuah unggahan di media sosial X, Presiden Nawrocki menegaskan bahwa spanduk itu mendiskreditkan dan mencederai sejarah pahit Polandia pada masa perang, yang menjadi masa kelam tidak hanya bagi warga Yahudi tetapi juga jutaan warga Polandia lainnya. Situasi ini memperparah ketegangan yang sudah ada dalam hubungan antara Polandia dan Israel, terutama berkaitan dengan perbedaan pandangan sejarah mengenai Perang Dunia II dan Holocaust.
Nazi Jerman menduduki Polandia selama Perang Dunia II, dan populasi Yahudi di negara itu yang mencapai 3,2 juta jiwa merupakan yang terbesar di Eropa saat itu. Hampir semuanya tewas dalam kamp-kamp kematian Nazi serta pembantaian massal lainnya. Perselisihan mengenai bagaimana sejarah ini dijalankan antara kedua negara menambah beban hubungan diplomatik mereka.
Menteri Dalam Negeri Polandia, Marcin Kierwinski, turut mengecam keras aksi suporter Israel tersebut. Sementara itu, Kedutaan Besar Israel di Warsawa menyebut tindakan tersebut sebagai sesuatu yang memalukan dan tidak mewakili sikap para penggemar sepak bola Israel secara keseluruhan. Insiden ini memicu perdebatan hangat dan memunculkan kembali luka lama yang sulit untuk disembuhkan dalam diplomasi kedua negara.
Beberapa warga Polandia selama ini menolak tuduhan keterlibatan warga mereka dalam pembunuhan kaum Yahudi selama pendudukan Nazi, menyebutnya sebagai upaya pencemaran nama baik Polandia yang sangat menderita pada masa perang. Namun, sejarah mencatat bahwa ada keterlibatan tersebut, yang menjadi sumber kontroversi dan konflik interpretasi sejarah.
