PONTIANAK INFORMASI.CO, Lokal – Mendunia Indonesia (MMI) Cabang Kota Pontianak menggelar kegiatan Hijau Bumi Khatulistiwa di Pelangi Kapuas Park, Desa Sungai Kupah, pada Jumat (31/1/2026). Kegiatan penanaman mangrove ini melibatkan 65 anak muda yang terdiri dari panitia dan relawan sebagai upaya pemulihan ekosistem pesisir sekaligus peningkatan kesadaran lingkungan.
Kegiatan ini dilatarbelakangi oleh kondisi Indonesia sebagai negara di garis khatulistiwa yang memiliki kekayaan hayati melimpah, namun saat ini menghadapi ancaman degradasi lingkungan, deforestasi, dan krisis iklim. Melalui program ini, Muda Mendunia Indonesia mendorong generasi muda untuk berperan aktif sebagai agen perubahan melalui aksi nyata dan edukasi lingkungan.
Pelangi Kapuas Park dipilih sebagai lokasi kegiatan karena merupakan kawasan pesisir yang rentan terhadap abrasi dan membutuhkan penguatan ekosistem pantai. Selain itu, kondisi lingkungan setempat dinilai sesuai untuk pertumbuhan mangrove jenis Rhizophora mucronata yang ditanam dalam kegiatan tersebut.
“Pelangi Kapuas Park, Desa Sungai Kupah dipilih sebagai lokasi penanaman mangrove karena wilayah ini merupakan kawasan pesisir yang rentan terhadap abrasi serta membutuhkan upaya penguatan ekosistem pantai. Kondisi lingkungan setempat dinilai sesuai untuk pertumbuhan mangrove, khususnya jenis Rhizophora mucronata,” ujar Branch Coordinator MMI Pontianak, Indah Karunia Ratri.
Kegiatan Hijau Bumi Khatulistiwa mengusung tagline “From Roots We Rise” yang mencerminkan filosofi penanaman mangrove sebagai fondasi awal perubahan dan keberlanjutan lingkungan. Dari akar mangrove yang ditanam, diharapkan tumbuh perlindungan ekosistem pesisir serta kesadaran ekologis generasi muda.
Dalam kegiatan tersebut, sebanyak 350 bibit mangrove jenis Rhizophora mucronata ditanam. Jenis mangrove ini dipilih karena memiliki kemampuan adaptasi yang baik di wilayah pesisir berlumpur serta sistem perakaran yang kuat untuk menahan sedimen dan meredam gelombang laut.
Sebelum penanaman dilakukan, para peserta mendapatkan edukasi singkat mengenai teknik penanaman mangrove yang benar serta pemahaman tentang peran mangrove bagi ekosistem pesisir. Pembekalan ini dilakukan agar pelaksanaan kegiatan di lapangan berjalan efektif dan sesuai dengan prinsip konservasi lingkungan.
“Penanaman mangrove diharapkan dapat berkontribusi dalam mengurangi dampak perubahan iklim dan abrasi di wilayah pesisir melalui fungsi alami mangrove. Mangrove mampu menyerap dan menyimpan karbon, sehingga membantu mengurangi emisi gas rumah kaca penyebab perubahan iklim,” kata Project Manager Hijau Bumi Khatulistiwa, Farhana Cahya Amalina Widagdo.
Meski demikian, pelaksanaan kegiatan di wilayah pesisir memiliki tantangan tersendiri, terutama keterbatasan pengetahuan peserta mengenai teknik penanaman mangrove serta kondisi medan berlumpur. Untuk mengantisipasi hal tersebut, panitia memberikan pembekalan teknis dan melakukan penyesuaian terhadap kondisi lapangan.
Sebagai bentuk keberlanjutan program, monitoring dilakukan melalui kerja sama dengan pengelola mangrove setempat serta kunjungan lapangan secara berkala. MMI Pontianak berharap kegiatan ini tidak berhenti sebagai agenda seremonial, tetapi mampu mendorong generasi muda menjadi agen perubahan yang konsisten dalam menjaga kelestarian lingkungan menuju Indonesia Emas 2045.
