PONTIANAK INFORMASI.CO, Lokal – PT Pertamina Patra Niaga Regional Kalimantan mengambil langkah percepatan distribusi bahan bakar minyak (BBM) ke wilayah hulu Kalimantan Barat menyusul pendangkalan alur Sungai Kapuas–Melawi yang menghambat pelayaran kapal tanker menuju Fuel Terminal (FT) Sintang.
Area Manager Communication, Relations & CSR Regional Kalimantan, Edi Mangun, menyampaikan bahwa dalam beberapa pekan terakhir terjadi penurunan signifikan kedalaman sungai. Berdasarkan pemantauan hidrologis, kedalaman air tercatat sekitar 2,25 meter atau berkurang sekitar lima meter dari batas aman navigasi (safe draft limit) 4 meter. Kondisi tersebut membuat kapal pengangkut BBM belum dapat berlayar normal ke FT Sintang.
“Kami memahami situasi ini menimbulkan kekhawatiran di tengah masyarakat. Secara prinsip, stok BBM dalam kondisi aman. Beberapa kapal juga telah berada dalam posisi ready stock dan anchor di wilayah Sanggau. Saat ini kami masih menunggu kepastian izin lokasi jetty dalam skema penanganan darurat untuk proses pembongkaran. Sambil menunggu solusi jalur sungai, distribusi diperkuat melalui jalur darat dari FT Sintang dan Integrated Terminal Pontianak agar pasokan tetap terjaga,” jelas Edi.
Sebagai alternatif, distribusi diperkuat melalui pengiriman darat dari FT Sintang dan Integrated Terminal Pontianak. Meski waktu tempuh lebih panjang, pola ini dinilai sebagai strategi untuk menjaga kesinambungan suplai ke SPBU dan lembaga penyalur di daerah terdampak.
Upaya pengamanan pasokan juga dibahas dalam rapat koordinasi yang digelar Pemerintah Kabupaten Melawi pada Rabu (18/02/26). Pertemuan tersebut dihadiri Bupati Melawi, Ketua DPRD, Sekda, Kepala Dinas Koperasi, UKM dan Perdagangan, Wakapolres Melawi, serta Kabag Ops Polres Melawi bersama perwakilan Pertamina.
Dalam forum tersebut, Bupati Melawi meminta optimalisasi distribusi ke seluruh SPBU di wilayahnya agar kebutuhan masyarakat terpenuhi. Pengawasan penyaluran juga diminta diperketat sesuai ketentuan, serta pelayanan kepada masyarakat umum diprioritaskan. Selain itu, jam operasional SPBU diusulkan dimulai lebih awal untuk mempercepat antrean pelayanan. Pemerintah daerah turut mengimbau warga agar tidak melakukan pembelian berlebih.
Menanggapi hal itu, Edi menyatakan pihaknya telah mengambil langkah percepatan suplai dan memperkuat pengawasan di SPBU guna memastikan penyaluran berjalan sesuai aturan.
“Kami memahami kondisi ini berdampak pada aktivitas masyarakat. Pertamina akan terus bekerja maksimal bersama pemerintah daerah dan aparat untuk memastikan pasokan segera kembali stabil. Kami mengimbau masyarakat melakukan pembelian sesuai kebutuhan agar distribusi dapat berjalan lancar dan merata,” tutup Edi.
Koordinasi intensif juga terus dilakukan bersama pemerintah daerah di Kabupaten Sintang, Melawi, dan Kapuas Hulu serta aparat penegak hukum untuk memastikan monitoring distribusi berlangsung optimal. Pertamina Patra Niaga Regional Kalimantan menegaskan komitmennya memperkuat jalur distribusi darat sembari mempercepat solusi logistik sungai hingga penyaluran kembali normal.
