KBS Akui Foto Harimau Kurus yang Viral Asli dari Kebun Binatang, tetapi Diambil pada 2009. Ist
KBS Akui Foto Harimau Kurus yang Viral Asli dari Kebun Binatang, tetapi Diambil pada 2009. Ist
Surabaya – Kebun Binatang Surabaya (KBS) mengakui foto harimau Sumatera bertubuh kurus yang viral di media sosial memang berasal dari koleksi satwanya. Namun, pihak pengelola menegaskan foto tersebut merupakan dokumentasi lama yang diambil sekitar tahun 2009, bukan menggambarkan kondisi KBS saat ini.
Foto tersebut menjadi sorotan publik di tengah mencuatnya kasus dugaan korupsi anggaran Perusahaan Daerah Taman Satwa (PD TS) Kebun Binatang Surabaya senilai Rp10,2 miliar yang menjerat mantan Direktur Utama PD TS KBS periode 2016–2024, Choirul Anwar.
Kepala Seksi Humas KBS, Lintang Ratri Sunarwidhi, mengatakan harimau dalam foto itu merupakan satwa sumbangan warga yang saat tiba di KBS sudah mengalami gangguan kesehatan.
“Gambar-gambar tadi itu gambar sebelum tahun 2009. Jadi memang kami akui ada harimau yang kurus sekali itu,” kata Lintang, Kamis (23/7).
Menurutnya, harimau tersebut sebelumnya dipelihara oleh warga dan terbiasa diberi makan nasi rawon. Pola makan yang tidak sesuai itu menyebabkan satwa mengalami gangguan pencernaan saat menjalani perawatan di KBS.
“Itu dulu adalah sumbangan warga. Setelah kami rawat, ternyata sebelumnya terbiasa diberi makan nasi rawon sehingga mengalami gangguan pencernaan,” ujarnya.
Lintang menjelaskan harimau tersebut akhirnya mati pada 2009 setelah menjalani perawatan kurang dari satu tahun. Penyebab kematiannya disebut akibat gangguan pencernaan.
“Itu sudah mati sejak tahun 2009. Saat itu saya sendiri yang menangani ketika satwa tersebut meninggal,” katanya.
Pihak KBS menyayangkan foto lama tersebut kembali beredar dan dikaitkan dengan kondisi kebun binatang saat ini, terlebih setelah mencuatnya kasus dugaan korupsi di lingkungan PD TS KBS.
Menurut Lintang, sejak pengelolaan KBS diambil alih Pemerintah Kota Surabaya, berbagai pembenahan telah dilakukan, mulai dari perbaikan infrastruktur, kandang, hingga standar pemberian pakan satwa.
“Dari pemerintah kota inilah Kebun Binatang Surabaya menjadi lebih baik. Infrastruktur diperbaiki, kandang diperbaiki, dan pakan disesuaikan dengan standar,” ujarnya.
Ia memastikan saat ini tidak ada satwa yang mengalami kekurangan pakan ataupun mati karena kelaparan. Menurutnya, kondisi kesehatan satwa diawasi secara rutin oleh berbagai pihak karena seluruh satwa di KBS merupakan aset negara.
“Kami pastikan saat ini tidak ada satwa yang kurus atau mati akibat kurang pakan. Kalau ada kematian, umumnya karena faktor usia atau sakit, bukan karena kekurangan makanan,” tegasnya.
Lintang juga memastikan proses hukum terkait dugaan korupsi yang menjerat mantan Direktur Utama PD TS KBS tidak akan mengganggu operasional kebun binatang, termasuk perawatan satwa maupun pelayanan kepada pengunjung.
“Untuk perawatan satwa tidak akan ada perubahan. Bahkan kami akan terus meningkatkan kualitas pelayanan dan pengelolaan satwa ke depan,” katanya.
Sebelumnya, Kejaksaan Tinggi Jawa Timur menetapkan mantan Direktur Utama PD TS KBS, Choirul Anwar, sebagai tersangka dugaan korupsi anggaran perusahaan sebesar Rp10,2 miliar selama periode 2016–2024.
Penyidik menduga tersangka menyalahgunakan anggaran perusahaan melalui berbagai pengeluaran fiktif dan penggelembungan anggaran, termasuk dugaan mark-up biaya pakan satwa. Akibat dugaan penyimpangan tersebut, pengelolaan kebun binatang disebut terdampak, mulai dari fasilitas yang tidak terawat hingga kondisi sejumlah satwa yang mengalami penurunan kesehatan pada periode tersebut.
