PONTIANAK INFORMASI – Sejumlah wartawan kesulitan mendapatkan keterangan Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Kalimantan Barat, dr. Erna Yulianti, saat meliput penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di kawasan Parit Haji Muhsin, Kabupaten Kubu Raya, Kalimantan Barat.
Dr. Erna saat itu turut mendampingi Gubernur Kalimantan Barat Ria Norsan meninjau lokasi lahan yang terbakar sekaligus menyerahkan bantuan kepada petugas dan relawan yang berada di lokasi.
Usai agenda penyerahan bantuan, sejumlah wartawan dari media lokal dan nasional mencoba meminta keterangan terkait dampak karhutla terhadap kesehatan masyarakat.
Pertanyaan yang hendak dikonfirmasi di antaranya mengenai perkembangan kasus infeksi saluran pernapasan akut (ISPA), dampak paparan asap, hingga imbauan kesehatan bagi masyarakat di tengah kondisi kemarau.
Namun, sebelum wawancara dilakukan, dr. Erna terlihat bergegas meninggalkan lokasi.
Sebelumnya, beberapa wartawan memilih menunggu karena dr. Erna sempat mengatakan akan membagikan masker terlebih dahulu.
Setelah pembagian masker dan agenda foto bersama tim selesai, wartawan kembali mencoba meminta waktu untuk wawancara.
“Bu, wawancara terkait update ISPA, dampak asap dan kemarau. Lalu bagaimana di tengah kemarau ini warga harus tetap menjaga kualitas air yang diminum untuk kesehatan?” tanya wartawan.
Dr. Erna kemudian menjawab singkat.
“Kalau air bukan wewenang kami.”
Wartawan kembali mencoba meminta keterangan terkait persoalan kesehatan masyarakat akibat karhutla dan asap. Namun, dr. Erna tetap melanjutkan perjalanan menuju mobil dinas.
Sejumlah wartawan bahkan sempat mengejar untuk meminta waktu wawancara.
Dr. Erna kemudian menjelaskan dirinya harus segera kembali karena memiliki agenda rapat di Kantor Gubernur Kalimantan Barat.
“Saya buru-buru karena mau pergi rapat di kantor gubernur, menghadiri purnatugas Sekda,” ujarnya.
Keterangan terkait dampak kesehatan akibat karhutla menjadi penting di tengah kondisi Kalimantan Barat yang masih menghadapi kebakaran hutan dan lahan serta paparan asap di sejumlah wilayah.
Selain petugas pemadam dan relawan yang bekerja di lokasi kebakaran, masyarakat sekitar juga menghadapi dampak dari kondisi udara dan kemarau yang berlangsung.
Dalam situasi tersebut, informasi dari instansi kesehatan dibutuhkan masyarakat, terutama mengenai langkah pencegahan gangguan kesehatan akibat asap serta upaya menjaga kesehatan selama kondisi lingkungan terdampak karhutla.
Meski demikian, dr. Erna tidak menutup komunikasi dengan wartawan karena sebelumnya sempat membagikan masker kepada petugas dan awak media yang berada di lokasi.
Sementara itu, penanganan karhutla di Parit Haji Muhsin masih dilakukan oleh petugas gabungan bersama relawan untuk mencegah api meluas ke area lainnya.
Kondisi di lapangan juga menunjukkan tantangan penanganan karhutla di tengah cuaca panas dan kering yang membuat lahan mudah terbakar.
