Carlos Sainz SR (Credit : File Photo Purchase Licensing Rights)
PONTIANAK INFORMASI, Sports – Legenda reli dunia, Carlos Sainz Sr., secara resmi mengumumkan pengunduran dirinya dari pencalonan sebagai Presiden Fédération Internationale de l’Automobile (FIA) untuk pemilihan tahun ini. Kabar ini sekaligus mengakhiri spekulasi yang selama beberapa bulan terakhir beredar di dunia motorsport, di mana Sainz digadang-gadang sebagai penantang kuat petahana, Mohammed Ben Sulayem, yang kini berpeluang besar melenggang tanpa lawan untuk masa jabatan kedua.
Sainz, yang telah mengoleksi dua gelar Juara Dunia Reli dan empat kemenangan di ajang Dakar Rally, menyampaikan keputusan ini melalui akun media sosial resminya. Ia menegaskan bahwa setelah melalui pertimbangan matang dan memahami secara mendalam situasi internal FIA serta kompleksitas jabatan presiden, ia menilai saat ini bukanlah waktu yang tepat untuk mencalonkan diri.
“Saya telah bekerja keras beberapa bulan terakhir untuk memahami secara mendalam situasi di FIA dan tuntutan serta kompleksitas yang menyertai proyek sepenting ini. Setelah refleksi yang mendalam, saya menyimpulkan bahwa kondisi saat ini tidak ideal untuk mendasari pencalonan saya,” tulis Sainz dalam pernyataannya.
Selain faktor internal FIA, Sainz juga mempertimbangkan komitmennya terhadap persiapan menghadapi Dakar Rally bersama Ford. Ia tidak ingin pencalonan ini mengganggu fokus dan dedikasinya kepada tim, mengingat dirinya masih sangat kompetitif di ajang reli paling bergengsi itu.
“Saya menyadari bahwa benar-benar mencalonkan diri akan sangat mengorbankan persiapan saya untuk Dakar dan saya tidak ingin melemahkan komitmen saya kepada Ford dan tim saya. Kekhawatiran ini membuat saya harus realistis dan menunda niat saya untuk saat ini,” lanjut Sainz.
Keputusan Sainz mundur datang di tengah sorotan tajam terhadap kepemimpinan Ben Sulayem, yang masa jabatannya sejak 2021 diwarnai kontroversi, pengunduran diri pejabat penting, dan kebijakan yang menuai kritik dari berbagai pihak di lingkungan Formula 1 dan motorsport dunia. Meski demikian, Sainz menegaskan bahwa semangatnya untuk berkontribusi dalam tata kelola motorsport tidak akan surut, dan ia tetap berharap perubahan besar yang dibutuhkan FIA dapat terwujud di masa mendatang.
“Meski mundur dari persaingan ini, hasrat saya untuk melayani dan memimpin di dunia motorsport tidak berubah. Saya masih percaya organisasi ini membutuhkan perubahan penting, dan saya berharap hal itu akan terwujud dalam beberapa tahun ke depan,” pungkasnya.
Dengan mundurnya Sainz, perhatian kini tertuju pada Ben Sulayem yang berpotensi melanjutkan kepemimpinannya di FIA tanpa pesaing berarti. Namun, dinamika internal dan tuntutan reformasi di tubuh FIA diprediksi tetap menjadi isu hangat dalam waktu dekat.
