PONTIANAK INFORMASI – Masyarakat yang terdampak pelarangan penebangan mangrove dan aktivitas tungku arang di Kecamatan Batu Ampar mulai mengikuti pelatihan pengolahan amplang berbahan baku ikan. Pelatihan membuat camilan kerupuk khas ini dibuka langsung Bupati Kubu Raya Sujiwo di Aula Balai Desa Batu Ampar, Kecamatan Batu Ampar, Sabtu (20/6/2026).
Bupati Sujiwo menegaskan keputusan menghentikan penebangan mangrove dan aktivitas tungku arang di kawasan Batu Ampar harus diiringi dengan solusi nyata bagi masyarakat yang selama ini menggantungkan hidup pada sektor tersebut.
“Itu kesepakatan dan kemudian keputusan untuk zero penebangan mangrove di Kecamatan Batu Ampar dan sekitarnya, khususnya Desa Batu Ampar ini. Pemerintah harus memberikan langkah konkret,” kata Sujiwo.
Ia mengatakan pemerintah tidak ingin masyarakat hanya menerima larangan tanpa mendapatkan alternatif mata pencaharian yang layak. Karena itu, berbagai program pemberdayaan ekonomi mulai dijalankan secara bertahap.
“Dulu kita pernah pasang badan untuk para petani arang karena saat itu negara belum bisa memberikan solusi. Nah, ketika sekarang pemerintah merasa sudah ada banyak langkah konkret, bahkan lebih dari sepuluh program, maka tidak ada alasan lagi. Lingkungan harus kita selamatkan,” ucapnya.
Menurut Sujiwo, pelatihan amplang dipilih karena selaras dengan potensi utama Desa Batu Ampar sebagai kawasan pesisir yang mayoritas masyarakatnya berprofesi sebagai nelayan.
Hasil tangkapan ikan yang melimpah dinilai memiliki nilai tambah jika diolah menjadi produk makanan khas bernilai ekonomi lebih tinggi.
“Pelatihan amplang ini otomatis karena potensi perikanan di sini memang besar. Karena masyarakatnya nelayan, maka kita berdayakan nelayannya. Kita bantu mesin, alat tangkap, dan ke depan bahkan kita pikirkan bantuan sampan,” katanya.
Ia menerangkan pemerintah daerah tidak berhenti pada tahap perencanaan, melainkan telah masuk pada tahap pelaksanaan program di lapangan.
“Kita bukan tataran wacana, bukan tataran rencana. Ini sudah tataran eksekusi dan aplikasi,” tegasnya.
Melalui pelatihan tersebut, masyarakat diharapkan mampu menghasilkan produk olahan perikanan yang memiliki daya saing sekaligus membuka peluang usaha baru bagi keluarga nelayan di Batu Ampar. Sujiwo optimistis pengembangan usaha pengolahan amplang dapat menjadi salah satu penggerak ekonomi baru masyarakat pesisir.
“Dengan dukungan pelatihan, peralatan, dan pendampingan usaha, Desa Batu Ampar diharapkan mampu bertransformasi dari kawasan penghasil arang menjadi sentra produk olahan perikanan yang bernilai ekonomi tinggi dan ramah lingkungan,” harapnya
