PONTIANAK INFORMASI – Penulis Rintik Sedu, Nadhifa Allya Tsana atau yang akrab disapa Paus, menyapa para pembacanya dalam acara meet and greet di Gramedia Gaia Bumi Raya City, Pontianak, Sabtu (1/8).
Ia memperkenalkan buku barunya berjudul “Musim yang Tak Sempat Kita Miliki” kepada para fans nya di Pontianak.
Saat sesi tanya jawab, ada seorang penggemar yang bertanya kepada paus cara menghadapi cowok yang bingung?”
Paus pun memberikan jawabannya di hadapan para penggemar yang hadir. Respons tersebut sontak mengundang tawa sekaligus tepuk tangan dari peserta.
Sementara itu, Pontianak menjadi salah satu kota dalam rangkaian tur peluncuran novel terbarunya berjudul Musim yang Tak Sempat Kita Miliki, setelah sebelumnya menyambangi Bandung, Yogyakarta, Pekanbaru, dan Makassar.
Dalam sesi tanya jawab, Tsana mengungkapkan alasan di balik penggunaan nama pena Rintik Sedu. Menurutnya, sejak awal ia ingin pembaca lebih fokus pada karya yang ditulis, bukan sosok penulisnya.
“Awalnya saya ingin orang fokus pada apa yang saya tulis, bukan siapa yang menulisnya. Saya ingin membuat ruang baru tanpa orang melihat siapa penulisnya,” ujar Tsana.
Ia menjelaskan, kata Rintik dipilih karena memberi kesan menenangkan, sedangkan Sedu menggambarkan tema-tema kesedihan yang kerap diangkat dalam tulisannya.
Selain menceritakan perjalanan kariernya sebagai penulis, Tsana juga berbagi pengalaman tentang proses menerbitkan karya pertamanya. Ia mengaku tak pernah bercita-cita menjadi penulis karena sejak kecil diarahkan untuk menjadi dokter.
Namun, kebiasaan menulis sejak remaja membawanya dikenal luas melalui blog, kemudian platform Wattpad, hingga akhirnya mendapat kesempatan menerbitkan buku.
Dalam kesempatan itu, Tsana juga berpesan kepada para penulis muda agar tidak takut menerima kritik.
“Kalau kita berkarya, pasti akan ada yang tidak suka, ada yang mengkritik. Justru dari situ kita belajar menjadi lebih baik,” katanya.
Menurutnya, tulisan yang baik bukanlah tulisan yang sempurna, melainkan tulisan yang selesai dan berani dibagikan kepada pembaca.
“Selama tulisan itu hanya disimpan di laptop atau buku catatan, tulisan itu belum hidup. Tulisan harus disampaikan supaya mendapat respons dan masukan,” ujarnya.
Selain sesi diskusi, acara yang digelar Gramedia tersebut juga menghadirkan sesi foto dan penandatanganan buku. Kesempatan itu diberikan kepada 100 pembaca pertama yang membeli novel Musim yang Tak Sempat Kita Miliki.
