Foto: Instagram
PONTIANAK INFORMASI, Internasional – Tren stiker “Add Yours” bertema “Post You in 2016” sedang viral di Instagram, mengajak pengguna bernostalgia dengan unggahan foto lama dari satu dekade silam. Fenomena ini dimulai dari akun resmi Instagram yang memperkenalkan stiker tersebut, memicu gelombang unggahan Stories dari berbagai kalangan.
Fenomena ini menarik perhatian luas karena banyak pengguna berbagi potret diri mereka di tahun 2016, era yang dianggap sebagai puncak kesederhanaan digital. “Tahun di mana segala sesuatunya terasa menyenangkan,” kata akun @kls.
Tahun 2016 sering disebut “Tahun Emas Internet” karena budaya pop digital masih santai, jauh dari algoritma rumit dan estetika kaku saat ini. Banyak yang mengenang masa kecil bebas beban, hari-hari sekolah seram, hingga kehidupan kampus penuh ambisi. Playlist Spotify saat itu dipenuhi hits seperti “Closer” dari Chainsmokers, “Love Yourself” Justin Bieber, dan “One Dance” Drake yang bergema di setiap kafe.
Pengguna seperti Azaria, seorang pekerja kreatif, membagikan foto dirinya dari 10 tahun lalu dengan keterangan, “Melihat foto ini melihat yang berani. Tahun 2016 terasa lebih simpel.” Baginya, tren ini menjadi pengingat perjalanan satu dekade penuh pertumbuhan dan perjuangan pribadi.
Tren ini juga menghidupkan kembali estetika visual khas 2016 seperti filter Snapchat dengan mahkota binatang, border putih pada foto Instagram, serta tren lipstik matte. Budaya pop saat itu didominasi Pokémon GO yang membuat orang berjalan sambil menatap ponsel, sementara lagu-lagu EDM menjadi soundtrack sehari-hari.
Lebih dari sekadar foto lama, stiker ini jadi platform untuk pamer “glow up” atau transformasi diri. Perbandingan wajah polos 2016 dengan penampilan dewasa 2026 memberikan kepuasan emosional bagi pengunggah. Banyak yang merasa waktu berlalu cepat, dari update feed jarang menjadi rutinitas harian seperti sekarang.
Nostalgia 2016 ini bukan hanya tren sesaat, tapi refleksi kolektif atas perubahan hidup di era media sosial. Di tengah hiruk-pikuk 2026, unggahan ini mengingatkan betapa tulusnya interaksi digital dulu, tanpa tekanan konten sempurna.
