Kondisi Kota Gaza Sebelum Diserang Israel (Foto : Wikipedia)
PONTIANAK INFORMASI, Internasional – Sejumlah warga Israel dan kelompok sayap kanan menggelar aksi pawai dekat perbatasan Gaza pada awal Agustus 2025 dengan alasan bahwa wilayah Gaza kini sudah kosong dari penduduk Palestina. Aksi ini mencuat di tengah eskalasi konflik dan rencana relokasi warga Palestina dari Gaza yang terus mendapat sorotan internasional, serta rencana Israel memperluas kendali atas Gaza.
Dalam pernyataannya yang dilansir oleh Kompas.com, para peserta aksi mengklaim bahwa “tidak ada lagi orang Palestina” yang menghuni Gaza sehingga mereka merasa aman dan ingin segera pindah ke wilayah tersebut. Pendapat ini muncul bertepatan dengan berbagai rencana Israel yang sedang menyiapkan skema pemindahan paksa warga Palestina dari Jalur Gaza ke wilayah selatan dan negara lain, di bawah dalih migrasi sukarela.
Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu sebelumnya telah mengumumkan strategi militer untuk mengalahkan Hamas yang melibatkan perpindahan paksa warga sipil Palestina ke bagian selatan Gaza dengan dalih “demi keselamatan mereka sendiri”. Namun, rencana ini memicu kecaman tajam dari berbagai pihak karena akan membawa dampak kemanusiaan yang sangat serius bagi warga Palestina.
Menteri Pertahanan Israel, Yisrael Katz, juga mengumumkan rencana pembangunan “kota tenda” di Rafah yang akan menampung ratusan ribu warga Palestina yang dipindahkan dari tempat lain di Gaza. Warga yang dipindahkan akan melalui pemeriksaan ketat dan tidak akan diizinkan keluar dari zona tersebut, bahkan direncanakan akan dipindahkan ke negara lain dengan skema yang disebut migrasi sukarela, meski banyak yang menilai ini merupakan pemindahan paksa dengan konsekuensi kemanusiaan yang mengkhawatirkan.
Rencana Israel tersebut juga mendapat kecaman dari badan PBB UNRWA yang menyebut niat pemindahan paksa ini sebagai pelanggaran hak asasi manusia. UNRWA mengecam keras rencana memindahkan warga Palestina ke kamp konsentrasi di wilayah Gaza selatan dan memperingatkan dampak serius bagi jutaan warga yang sudah hidup dalam krisis kemanusiaan parah.
Meski demikian, di tengah kondisi sulit ini, sejumlah warga Israel tampak optimis dan ingin segera mengambil kesempatan untuk menetap di Gaza, menganggap wilayah itu sudah tidak berpenghuni karena perpindahan atau pengusiran warga Palestina. Aksi ini sekaligus menandai eskalasi baru dalam dinamika konflik yang terus berlanjut di wilayah tersebut, memperkuat ketegangan dan potensi perubahan demografis drastis di Gaza.
