PONTIANAK INFORMASI.CO, Lokal – Akses perjalanan internasional bagi masyarakat Kalimantan Barat semakin terbuka seiring perluasan jaringan penerbangan Batik Air yang terhubung melalui Kuala Lumpur. Langkah ini menghadirkan opsi perjalanan yang lebih efisien, baik untuk keperluan wisata, bisnis, pendidikan, maupun ibadah.
Melalui penguatan konektivitas dari Bandar Udara Internasional Supadio Pontianak (PNK) di Kabupaten Kubu Raya, masyarakat Kalbar kini memiliki jalur yang lebih luas menuju berbagai destinasi global. Kuala Lumpur menjadi hub utama yang menghubungkan Pontianak dengan sejumlah kota strategis di Asia dan Timur Tengah.
“Melalui penguatan konektivitas dari Bandar Udara Internasional Supadio, Pontianak (PNK) di Kubu Raya, masyarakat Kalimantan Barat kini memiliki akses yang lebih luas menuju berbagai destinasi internasional utama seperti Kuala Lumpur, Penang, Guangzhou, Xiamen, Jepang, serta Jeddah sebagai pintu masuk ibadah umrah. Perjalanan yang sebelumnya memerlukan rute panjang dan waktu lebih lama, kini dapat ditempuh dengan transit yang lebih singkat dan terencana,” ujar Corporate Communications Strategic of Batik Air, Danang Mandala Prihantoro.
Batik Air menjadwalkan penerbangan rute Kuala Lumpur–Pontianak mulai 5 Januari 2025 dengan nomor penerbangan OD-379 yang beroperasi setiap Senin, Rabu, dan Sabtu. Sementara itu, rute Pontianak–Kuala Lumpur mulai dilayani pada 6 Januari 2025 melalui penerbangan OD-378 setiap Selasa, Kamis, dan Minggu.
Selain membuka akses ke berbagai kota di Asia Tenggara, Asia Timur, Asia Selatan, hingga Australia, jaringan ini juga memberikan nilai tambah bagi calon jamaah umrah. Melalui koneksi penerbangan dari Kuala Lumpur menuju Jeddah, perjalanan ibadah kini dapat direncanakan dengan alternatif rute yang lebih praktis dan nyaman.
“Skema perjalanan ini menjadi solusi bagi jamaah dan penyelenggara umrah dalam merencanakan perjalanan yang lebih tertata dan kompetitif,” ujarnya.
Dengan adanya konektivitas baru ini, Batik Air tidak hanya memperkuat posisi Pontianak sebagai simpul transportasi regional, tetapi juga mendorong mobilitas masyarakat Kalimantan Barat agar semakin terhubung dengan pusat-pusat aktivitas internasional secara lebih efektif.
