PONTIANAK INFORMASI.CO, Lokal – Kelenteng Tengah Laut Xuan Wu Zhen Tan yang berada di Desa Kakap, Kabupaten Kubu Raya, Kalimantan Barat, bukan hanya dikenal karena lokasinya yang unik di tengah laut, tetapi juga karena kisah kemanusiaan yang melekat di baliknya. Selama hampir tiga dekade, kelenteng ini dijaga oleh seorang pria muslim bernama Slamet.
Slamet, 74 tahun, telah menjadi penjaga kelenteng yang juga dikenal sebagai Kelenteng Timbul atau Pekong Laut tersebut sejak hampir 30 tahun lalu. Meski berbeda keyakinan, ia menjalani perannya dengan penuh tanggung jawab dan konsistensi, menjadikan kelenteng ini simbol nyata toleransi antarumat beragama di Kalimantan Barat.
Kelenteng Xuan Wu Zhen Tan berdiri sekitar lima kilometer dari daratan dan hanya dapat diakses menggunakan perahu. Bangunannya mengapung di tengah laut, terpisah dari keramaian kota, dengan panorama perairan yang tenang terutama pada pagi hari. Lokasi tersebut menjadi daya tarik tersendiri bagi peziarah dan wisatawan.
Awal perjalanan Slamet sebagai penjaga kelenteng bermula dari tawaran pekerjaan dengan upah Rp400 ribu per bulan. Namun, jumlah tersebut membuatnya sempat mengundurkan diri karena tidak mencukupi kebutuhan hidup.
“Jadi dulu saya jaga pekong (kelenteng) ini dengan bayaran 400 ribu rupiah, setelah itu saya berhenti, mana cukup 400 ribu jadi akhirnya saya berhenti,” katanya.
Tak lama berselang, Slamet kembali diminta menjaga kelenteng, kali ini tanpa bayaran tetap. Ia mengaku menerima tawaran tersebut karena merasa lebih leluasa menjalani aktivitasnya sehari-hari.
“Setelah itu saya dipanggil lagi, saya mau saja kalau tidak digaji bebas gitu maksudnya, jadi bisa kemana-mana, kalau di gaji kan tidak bisa kemana-mana,” ujarnya.
Meski tidak menerima gaji, Slamet mengatakan bahwa terkadang pengunjung yang datang memberinya uang secara sukarela.
“Tapi kadang ada-ada saja dari pengunjung yang datang yang kasi uang,” ucapnya.
Setiap hari, Slamet menyeberangi laut menggunakan perahu dari rumahnya yang berada di kawasan pabrik di tepi pantai. Ia tiba di kelenteng sekitar pukul 07.00 WIB dan kembali pada pukul 17.00 WIB, sementara pada hari Minggu ia biasanya pulang lebih sore.
“Saya tidak tinggal disini, saya tinggal dekat pabrik, jadi setiap hari kesini dengan menggunakan perahu,” ungkapnya.
Dengan kondisi kaki yang tidak bisa berjalan sempurna, Slamet tetap menjalankan tugasnya tanpa mengeluh. Selama bertahun-tahun menjaga kelenteng, ia telah bertemu dengan banyak pengunjung dari berbagai daerah, bahkan dari luar negeri, terutama menjelang perayaan Imlek.
“Banyak yang datang, setiap hari pasti ada, apalagi jelang imlek, dari luar kota seperti Jakarta juga ada, bahkan pernah juga datang orang Belanda kesini bersama istrinya orang Indonesia,” jelasnya.
Perbedaan keyakinan tidak pernah menjadi persoalan bagi Slamet. Menurutnya, selama pekerjaan dilakukan dengan baik dan tidak melanggar norma, semuanya dapat dijalani dengan damai.
“Semuanya sama saja menurut saya, tidak masalah,” ucapnya.
Kisah Slamet menunjukkan bahwa toleransi antarumat beragama bukan sekadar konsep, melainkan praktik nyata dalam kehidupan sehari-hari. Kepercayaan yang diberikan kepadanya sebagai penjaga kelenteng, serta dedikasi yang ia tunjukkan selama hampir 30 tahun, menjadikan Kelenteng Tengah Laut Kubu Raya lebih dari sekadar destinasi religi, melainkan simbol harmoni di tengah keberagaman Indonesia.
