Pusaka Leluhur, Penjaga Sunyi di Kalbar. (Ilustrasi: AI Generated)
Pontianak Informasi, Lokal – Di Kalimantan Barat, pusaka bukan sekadar barang lama. Ia menyimpan sejarah, kepercayaan, dan harapan yang diwariskan turun-temurun. Meski zaman terus berubah, banyak masyarakat di Kalbar yang masih menjaga pusaka dengan penuh hormat.
Bagi masyarakat Dayak, Mandau lebih dari sekadar senjata tradisional. Ia dianggap memiliki roh, dibuat dengan aturan adat, dan dijaga karena rasa hormat, bukan karena takut. Mandau dirawat, dijauhkan dari sembarangan sentuhan, dan hanya digunakan dalam upacara tertentu.
Masyarakat Tionghoa di Kalbar juga punya pusaka tersendiri. Mulai dari jimat, kertas beraksara, hingga patung kecil atau gelang pelindung yang diwariskan oleh orang tua mereka. Semua benda itu menyimpan harapan baik, bukan sihir, tapi bentuk keyakinan dan perlindungan.
Sementara di rumah-rumah Melayu, kita bisa menemukan tasbih, bingkai ayat suci, atau botol kaca kecil berisi doa yang disimpan rapi. Tak jarang pula ada aroma khas seperti cendana yang melekat di rumah, seolah jadi penanda bahwa tempat itu dijaga.
Pusaka-pusaka ini sering tak diberi nama. Namun pemiliknya percaya bahwa benda-benda tersebut memiliki “isi” atau kekuatan tertentu. Bukan untuk ditakuti, tapi dihargai sebagai bagian dari warisan dan pengingat hubungan dengan leluhur serta alam.
Di tengah modernitas, pusaka tak selalu diartikan sebagai hal mistis. Ia menjadi simbol budaya dan spiritualitas yang menyatukan atau mengikat nilai, keyakinan, dan rasa percaya yang tetap hidup hingga kini.
