Foto: Kompas.com
Pontianak Informasi, Nasional – Menteri Kebudayaan Fadli Zon menegaskan bahwa proyek penulisan ulang sejarah Indonesia tetap berjalan meski menuai kritik dari DPR dan publik. Ia menyebut proyek ini melibatkan 113 sejarawan dari 34 perguruan tinggi, dan kini telah mencapai 70–80 persen penyelesaian. Penulisan tersebut direncanakan rampung Agustus 2025, dengan uji publik dijadwalkan pada Juli.
“Jangan menghakimi sebelum membaca hasilnya,” ujar Fadli Zon, membantah tudingan bahwa proses ini tertutup atau bermuatan politik. Ia menegaskan uji publik bertujuan untuk melibatkan masyarakat dan akademisi secara terbuka.
Namun, kritik keras datang dari Komisi X DPR RI. Anggota Fraksi PDI-P, Mercy Chriesty Barends, meminta agar proyek ini dihentikan demi menghormati korban sejarah yang masih mencari keadilan.
“Kami percaya ya Pak ya, daripada diteruskan dan berpolemik, mendingan dihentikan. Kalau Bapak mau teruskan, ada banyak yang terluka di sini,” kata Mercy dalam rapat kerja bersama Fadli Zon, Rabu (2/7), yang disiarkan melalui YouTube TV Parlemen.
Ia menekankan bahwa sejarah tidak seharusnya ditulis dengan memilih-milih peristiwa.
“Kalau memilih-milih saja mana yang ditulis dan mana yang tidak ditulis, ada banyak kekelaman-kekelaman yang ada di bawah permukaan yang tidak bisa kami ungkapkan satu per satu,” ucapnya.
Sebelumnya, Fraksi PKB juga menyampaikan keberatan atas proyek ini yang dianggap terburu-buru dan rawan menyakiti korban sejarah, terutama terkait peristiwa Mei 1998.
Meski demikian, Fadli tetap bersikukuh bahwa proyek ini adalah bagian dari upaya menghidupkan kembali memori sejarah nasional sesuai amanat Bung Karno.
