PONTIANAK INFORMASI, Lokal – Di balik semangkuk bubur pedas, seporsi choipan, atau sepiring pengkang, tersimpan lebih dari sekadar cita rasa. Ada kisah budaya, perjuangan para pelaku UMKM, hingga identitas Kalimantan Barat yang terus hidup dari generasi ke generasi.
Berangkat dari keyakinan itulah, tiga anak muda asal Kalimantan Barat yang tergabung dalam Tim Jejak Kapuas memilih menjadikan kuliner sebagai media untuk menginspirasi masyarakat sekaligus mengampanyekan transformasi digital. Beranggotakan Febri, Raffi, dan Shezi, Tim Jejak Kapuas berhasil melaju sebagai tujuh besar finalis QRIS Jelajah Indonesia Kalimantan Barat 2026.
Program yang merupakan bagian dari Festival Ekonomi Keuangan Digital Indonesia (FEKDI) ini mengusung tema “Jelajah Kuliner Nusantara, Bayar Praktis dengan QRIS”, dengan tujuan memperkuat literasi masyarakat terhadap sistem pembayaran digital, mendukung pertumbuhan UMKM, serta mendorong sektor pariwisata melalui kekayaan kuliner daerah.
Selama penyelenggaraan pada 15–19 Juli 2026, para finalis akan menjalankan berbagai misi di Pontianak, Kubu Raya, dan Singkawang. Misi tersebut meliputi edukasi penggunaan QRIS pada sektor transportasi, sosialisasi Cinta, Bangga, dan Paham (CBP) Rupiah, eksplorasi kuliner lokal, hingga edukasi kepada merchant UMKM mengenai pemanfaatan QRIS sebagai sistem pembayaran digital.
Bagi Tim Jejak Kapuas, kesempatan ini bukan sekadar ajang kompetisi. Mereka ingin membuktikan bahwa kuliner dapat menjadi pintu masuk untuk membangun kesadaran masyarakat terhadap pentingnya digitalisasi, tanpa meninggalkan nilai budaya yang melekat pada setiap hidangan khas daerah. Mengusung tagline “Jejak Kapuas, Aksinya. Jelajah Kulinernya.”, tim ini berkomitmen menghadirkan perjalanan yang tidak hanya memperkenalkan cita rasa Kalimantan Barat, tetapi juga mengangkat kisah para pelaku UMKM yang menjadi denyut nadi perekonomian daerah.
“Kami percaya kuliner bukan hanya soal makanan, tetapi juga tentang cerita, budaya, dan perjuangan para pelaku UMKM. Melalui QRIS Jelajah Indonesia 2026, kami ingin menunjukkan bahwa kuliner lokal dapat menjadi pintu masuk untuk memperkenalkan pentingnya digitalisasi pembayaran kepada masyarakat. Harapannya, semakin banyak pelaku usaha yang merasakan manfaat transaksi digital sehingga usahanya dapat berkembang lebih luas,” ujar Febri.
Menurut Raffi, digitalisasi bukan sekadar mengikuti perkembangan zaman, melainkan menghadirkan solusi nyata bagi masyarakat dan pelaku usaha.
“QRIS bukan sekadar alat pembayaran. Di balik kemudahannya, ada peluang bagi UMKM untuk naik kelas, memperluas pasar, dan memberikan pengalaman bertransaksi yang lebih praktis bagi pelanggan. Kami ingin menjadi bagian dari upaya mengenalkan hal tersebut melalui pendekatan yang paling dekat dengan masyarakat, yaitu kuliner.”
Sementara itu, Shezi berharap langkah kecil yang dilakukan Tim Jejak Kapuas dapat menjadi inspirasi bagi semakin banyak generasi muda untuk ikut berkontribusi membangun daerahnya. “Kami tidak ingin perjalanan ini berhenti sebagai sebuah kompetisi. Kami ingin setiap langkah yang kami lakukan dapat meninggalkan manfaat bagi pelaku UMKM, masyarakat, dan promosi kuliner khas Kalimantan Barat. Jika semakin banyak orang mencintai kuliner lokal sekaligus terbiasa bertransaksi secara digital, maka kami merasa tujuan kami telah tercapai.”
QRIS atau Quick Response Code Indonesian Standard sendiri merupakan standar kode QR nasional yang dikembangkan Bank Indonesia untuk mempermudah transaksi pembayaran secara cepat, aman, dan efisien. Kehadirannya diharapkan dapat memperluas akses pembayaran digital bagi masyarakat sekaligus memperkuat daya saing UMKM di era ekonomi digital.
Semangat tersebut sejalan dengan tujuan penyelenggaraan QRIS Jelajah Indonesia 2026, yakni meningkatkan literasi masyarakat terhadap sistem pembayaran digital, memperluas penggunaan QRIS, memperkuat ekosistem ekonomi dan keuangan digital, serta mendukung pertumbuhan UMKM dan pariwisata Indonesia secara berkelanjutan.
Bagi Tim Jejak Kapuas, kemenangan bukan hanya tentang berdiri di podium juara. Lebih dari itu, kemenangan adalah ketika semakin banyak masyarakat mengenal kuliner khas Kalimantan Barat, semakin banyak pelaku UMKM yang merasakan manfaat digitalisasi, dan semakin luas kesadaran bahwa kemajuan teknologi dapat berjalan berdampingan dengan pelestarian budaya.
Karena setiap langkah akan meninggalkan jejak. Dan bagi Tim Jejak Kapuas, jejak terbaik adalah jejak yang membawa manfaat bagi masyarakat.
