Whoosh (Foto : bisnis.com)
PONTIANAK INFORMASI, Nasional – Direktur Utama PT Kereta Api Indonesia (Persero) atau KAI, Bobby Rasyidin, secara terbuka mengungkap kondisi keuangan proyek Kereta Cepat Jakarta-Bandung (Whoosh) yang hingga kini masih membebani perusahaan dengan kerugian triliunan rupiah. Dalam Rapat Dengar Pendapat (RDP) bersama Komisi VI DPR RI pada Rabu, 20 Agustus 2025, Bobby menyebut proyek ini sebagai sebuah “bom waktu” yang harus segera ditangani secara serius.
Berdasarkan laporan keuangan PT KAI per 30 Juni 2025 (unaudited), entitas anak usaha KAI yaitu PT Pilar Sinergi BUMN Indonesia (PSBI) yang menjadi pemegang saham mayoritas di PT Kereta Cepat Indonesia China (KCIC), mencatat kerugian hingga Rp 4,195 triliun sepanjang 2024. Kerugian berlanjut hingga semester I 2025 dengan tambahan kerugian Rp 1,625 triliun, sehingga total kerugian Whoosh sudah mencapai sekitar Rp 5,8 triliun sejak 2024 hingga pertengahan 2025.
Bobby mengungkapkan, “Kami akan koordinasi dengan Danantara untuk masalah KCIC ini, terutama kami dalami juga. Ini bom waktu,” sebagai respons atas beban utang yang membebani KAI dan potensi risiko terhadap keuangan negara apabila persoalan ini tidak segera diatasi. Kerugian yang terus berlanjut ini sebagian besar disebabkan tingginya utang yang harus dibayar kepada kreditur, terutama China Development Bank (CDB), ditambah beban bunga yang cukup besar.
Dalam pertemuan dengan DPR, Ketua Komisi VI Anggia Ermarini menyampaikan bahwa KAI sebenarnya berpotensi meraih laba, namun masalah utang Whoosh justru menjadi beban besar yang membuat KAI mengalami defisit. Anggota DPR lain, Darmadi Durianto, juga mengingatkan bahwa beban keuangan dari proyek ini sudah sangat berat dan mencapai triliunan rupiah dalam dua tahun terakhir.
Selain itu, ada desakan dari anggota DPR untuk manajemen KAI tidak hanya mengandalkan bantuan dari Badan Pengelola Investasi Daya Anggara Nusantara (BPI Danantara) dalam menyelesaikan utang kereta cepat, melainkan mengambil langkah konkret untuk mengelola dan membayar utang secara mandiri agar beban keuangan tidak terus meningkat. Bobby menyatakan manajemen sedang mendalami kendala ini dan berkomitmen menyelesaikan persoalan agar tidak makin memperberat keuangan perusahaan.
Menurut laporan dari CNN Indonesia, total investasi proyek mencapai US$7,2 miliar atau sekitar Rp 116,5 triliun, ke depan perlunya strategi penyelamatan dan restrukturisasi utang yang tepat sangat penting agar proyek besar ini tidak menjadi beban fiskal yang membebani keuangan negara dan BUMN terkait.
