Foto: Metro TV
PONTIANAK INFORMASI, Nasional – Sejumlah ibu rumah tangga dan warga Desa Cigobang, Kecamatan Pasaleman, Kabupaten Cirebon, Jawa Barat, menggelar aksi unjuk rasa sengit pada Jumat (16/1/2026) di kawasan Bukit Cigobang. Mereka secara mandiri mencabut belasan hingga ratusan pohon kelapa sawit yang ditanam secara ilegal di area perbukitan tersebut. Aksi ini dipicu oleh kekecewaan mendalam karena perusahaan pengelola lahan gagal memenuhi janji pencabutan tanaman pada tenggat 15 Januari 2026.
Dilansir dari Kompas TV, aksi tersebut melibatkan ibu-ibu yang menggunakan alat seadanya untuk mencabut pohon sawit setinggi 50-80 cm, sambil mengancam melanjutkan jika tuntutan tak dipenuhi. Warga menolak keras penanaman sawit seluas lebih dari dua hektare di kawasan hutan resapan air, yang berpotensi merusak lingkungan dan mengancam pasokan air bersih masyarakat. Ketua RW 02 Desa Cigobang, Sara, menegaskan, “Sawit itu ditanam tanpa izin, ilegal. Sekarang malah minta ganti rugi. Kami menolak keras.”
Situasi memanas setelah perusahaan meminta ganti rugi Rp15.000 per pohon, yang dinilai memberatkan warga. Warga Cigobang khawatir sawit memicu krisis air, longsor, dan kekeringan, karena sumur bor sedalam puluhan meter pun sering kering. Ibu Rohana, salah satu demonstran, menyatakan kekhawatirannya untuk generasi mendatang akibat ancaman ekosistem yang rusak.
Kepala Desa Cigobang, M. Abdul Zei, mengakui persoalan ini telah mandek selama hampir satu bulan meski telah ada musyawarah dan dialog intensif. Pemerintah desa menahan warga agar tidak anarkis, tetapi kesabaran habis setelah penundaan berulang dari perusahaan yang alasan belum siap lokasi pemindahan. Desa meminta bantuan Satpol PP untuk pencabutan bertahap dan melindungi warga dari intimidasi.
Penolakan sawit di Jawa Barat bukan hal baru, sejalan dengan Surat Edaran Gubernur Dedi Mulyadi yang melarang penanaman kelapa sawit di provinsi tersebut demi lindungi kawasan hutan lindung. Bupati Cirebon telah turun langsung mendukung warga dan mendorong pengalihan ke tanaman lain seperti pohon buah produktif. Perhutani juga menyatakan izin penanaman sawit di Bukit Cigobang tidak jelas sejak awal.
Aksi warga Cigobang mencerminkan perjuangan gotong royong untuk jaga kelestarian lingkungan, di mana emak-emak memimpin barisan dengan tangan kosong tapi tekad kuat. Meski proses pencabutan sulit karena akar kuat, belasan pohon berhasil dibuang, dan ratusan lainnya terancam jika tak ada tindak lanjut cepat. Warga menegaskan ini soal masa depan kampung, bukan sekadar tanaman.
