Foto: Metro TV
PONTIANAK INFORMASI, Nasional – Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) berkomitmen untuk merilis laporan awal terkait jatuhnya pesawat ATR 42-500 di Gunung Bulusaraung, Pangkep, Sulawesi Selatan. Laporan investigasi tersebut dijadwalkan akan diumumkan paling lambat 30 hari pasca-kecelakaan yang terjadi pada 17 Januari 2026 tersebut.
Ketua KNKT, Soerjanto Tjahjono, menjelaskan bahwa laporan perdana ini akan fokus pada pengumpulan data dan fakta lapangan tanpa menyertakan analisis mendalam atau kesimpulan akhir.
“Laporan awal investigasi akan dipublikasikan melalui laman resmi KNKT dan dikirimkan kepada pihak-pihak terkait,” kata dia melalui keterangan tertulis pada Kamis, 22 Januari 2026.
Sejak pesawat dilaporkan hilang kontak, KNKT telah mengerahkan dua investigator untuk menghimpun informasi dari berbagai pihak, mulai dari penyelenggara navigasi, operator maskapai Indonesia Air Transport (IAT), hingga saksi mata dari kalangan pendaki di lokasi kejadian.
Fokus utama saat ini adalah proses pengunduhan data dari kotak hitam (black box) yang telah ditemukan. Soerjanto meyakini bahwa identifikasi terhadap komponen ini akan mengungkap kronologi jatuhnya pesawat PK-THT tersebut secara benderang. Perlu diketahui bahwa kotak hitam terdiri dari dua bagian utama dengan fungsi yang berbeda.
“FDR merupakan alat yang merekam data penerbangan, sedangkan CVR merekam suara percakapan di ruang kemudi pesawat udara,” kata Soerjanto.
KNKT menegaskan bahwa proses ini dilakukan semata-mata untuk kepentingan keselamatan penerbangan di masa depan. Fokus utama tim bukanlah untuk menjatuhkan vonis kesalahan kepada pihak tertentu.
“Investigasi yang dilakukan KNKT sepenuhnya bertujuan untuk mencari penyebab terjadinya kecelakaan, tanpa mencari kesalahan ataupun pertanggungjawaban pihak manapun.”
Tragedi ini bermula saat pesawat milik Indonesia Air Transport (IAT) hilang kontak ketika hendak mendarat di Bandara Sultan Hasanuddin. Di dalam pesawat tersebut terdapat 10 orang, yang terdiri dari tujuh kru dan tiga pegawai Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) yang sedang bertugas melakukan pengawasan perairan.
Hingga laporan terakhir pada Kamis (22/1/2026), tim SAR gabungan telah berhasil menemukan delapan korban. Saat ini, upaya pencarian masih terus dilakukan untuk menemukan dua korban lainnya yang masih dinyatakan hilang di kawasan Gunung Bulusaraung.
