Mas Pelayaran ( Foto : Tiktok/Tribun)
PONTIANAK INFORMASI, Kisah viral mengenai insiden antara seorang pelanggan dan driver Shopee Food kembali menjadi sorotan setelah identitas asli sosok yang dikenal dengan sebutan “Mas Pelayaran” akhirnya terungkap. Pria tersebut diketahui bernama Takbirdha Wardiana “Terlapor masih berstatus pelajar atau mahasiswa berdasarkan kartu identitas penduduk,” kata Wahyu dari tayangan Metro Tv dilansir Minggu (6/5/2025).
Pada malam kejadian, AD, seorang driver Shopee Food, ditemani oleh AM karena mereka kerap menerima pesanan menuju lokasi yang cukup terpencil, terutama di malam hari. Sekitar pukul 19.30 WIB, AD mendapatkan dua pesanan sekaligus atau double order yang otomatis diterima dari sistem Shopee Food. Menyadari bahwa pesanan dari lokasi kedua, yakni sebuah warung makan, biasanya memerlukan waktu lama hingga satu jam, AD pun berinisiatif menghubungi pelanggan pertama melalui fitur chat aplikasi. Tujuannya adalah untuk menjelaskan situasi double order yang sedang dihadapi dan menanyakan apakah pesanan tersebut harus diantar dengan segera.
Namun, respons yang diterima ternyata cukup mengejutkan. Pelanggan pertama langsung menelepon dengan nada tinggi dan menuntut agar pesanan diantar tepat waktu, tanpa memperhatikan penjelasan AD mengenai kendala yang dihadapi di lapangan. Dalam kondisi tersebut, AD berusaha mempercepat perjalanan menuju lokasi pertama, yakni sebuah kafe, meski sesampainya di sana sekitar pukul 19.45 WIB, pesanan masih dalam proses sehingga mereka harus menunggu beberapa saat.
Setelah pesanan dari kafe selesai, AD dan AM segera melanjutkan perjalanan ke lokasi kedua. Sesuai dugaan, pesanan di warung makan pun masih dalam tahap persiapan. Mereka sempat menginformasikan kepada pihak restoran bahwa pelanggan sudah menunjukkan tanda-tanda kemarahan akibat keterlambatan. Sementara itu, AM juga berupaya menghubungi pelanggan pemesan kopi melalui chat, menyarankan agar menggunakan fitur prioritas di aplikasi apabila memang sedang terburu-buru. Namun, pesan tersebut tidak mendapatkan balasan.
Setelah pesanan kedua selesai sekitar pukul 20.15 WIB, AD dan AM langsung mengantarkan pesanan pertama ke daerah Bantulan. Dalam perjalanan, mereka terjebak kemacetan parah akibat adanya kirab budaya, sebagaimana disampaikan oleh warga setempat. Meski demikian, mereka tetap berusaha mencari jalur alternatif dan terus mengabarkan kondisi terkini kepada pelanggan kedua melalui chat.
Pelanggan tersebut hanya membalas, “Biar bintang yang berbicara,” yang membuat AM merasa tidak nyaman. Akhirnya, pesanan sampai di lokasi tujuan sekitar pukul 20.45 WIB, terlambat sekitar lima menit dari estimasi waktu yang tertera di aplikasi.
Kisah ini memperlihatkan tantangan yang dihadapi driver layanan pesan antar, mulai dari kendala operasional hingga komunikasi dengan pelanggan yang sering kali tidak berjalan mulus. Peristiwa ini juga menjadi pengingat pentingnya saling pengertian antara pelanggan dan driver, terutama ketika situasi di lapangan tidak selalu sesuai harapan. Diharapkan, kejadian serupa tidak terulang dan semua pihak dapat lebih menghargai proses serta tantangan dalam layanan pengantaran daring.
