Skip to content
Pontianak Informasi

Pontianak Informasi

Barometer Informasi Seputar Pontianak

Primary Menu
  • Home
  • Lokal
  • Kuliner
  • Nasional
  • Internasional
  • Ekonomi
  • Sports
  • Kesehatan
  • Home
  • News
  • Mengenal Pabayo, Penanda Sakral Suku Dayak Saat Gawai-Buka Lahan
  • Lokal
  • News

Mengenal Pabayo, Penanda Sakral Suku Dayak Saat Gawai-Buka Lahan

Editor PI 23/04/2026
IMG_2342

PONTIANAK INFORMASI – Di setiap gerbang atau pintu masuk lokasi upacara adat Dayak, kerap terlihat rumbai-rumbai halus dari bambu yang tertancap ditanah. Itulah pabayo, penanda sakral yang menandai tengah berlangsungnya ritual adat atau pesta gawai.

Bagi masyarakat Dayak, khususnya suku Kanayatn dan Salako di Kalimantan Barat, pabayo bukan sekadar hiasan. Ia menjadi simbol penting yang wajib ada dalam berbagai kegiatan adat, mulai dari naik dango, pesta gawai, hingga ritual membuka lahan atau membangun rumah.

Felixsianus, warga Dayak di Pontianak Timur, menyebut bahwa keberadaan pabayo tidak bisa dipisahkan dari setiap prosesi adat. “Kalau ada acara seperti naik dango atau gawai, pabayo itu wajib ada,” ujarnya usai mengikuti lomba meraut pabayo dalam gelaran Naik Dango ke-3 Kota Pontianak di Rumah Radangk, Rabu (22/4/26)

Ia mnegatakan membuat pabayo tidak bisa sembarangan. Bambu yang digunakan harus diraut tipis hingga membentuk rumbai yang indah dan berlapis. Meski terlihat sederhana, meraut pabayo membutuhkan keterampilan khusus dan ketelatenan tinggi.

“Kelihatannya mudah, tapi saat kita coba buat sendiri tidak semudah yang dibayangkan. Saya saja sudah bertahun-tahun belajar, hasilnya belum sempurna,” kata Felixsianus.

Ia menjelaskan, kualitas pabayo sangat dipengaruhi kondisi bambu. Bambu yang masih basah akan menghasilkan bentuk berbeda dibandingkan yang sudah kering.

Selain itu, bagian kulit luar bambu harus dibersihkan dengan baik agar rautan tidak mudah putus dan menghasilkan gelombang yang rapi.

Dalam tradisi Dayak, pabayo juga memiliki tingkatan yang menunjukkan skala acara. Untuk pesta besar seperti gawai, pabayo bisa memiliki hingga tujuh tingkat rautan. Sementara untuk kegiatan sederhana seperti membuka lahan, cukup dua atau tiga tingkat.

Felix mengungkapkan pada zaman dulu, sebelum proses meraut dimulai, terdapat pula ritual adat yang harus dilakukan sebagai bentuk penghormatan kepada leluhur dan guru yang mengajarkan keterampilan tersebut.

“Kita kasi paha ayam ke guru yang mengajarkan. Tapi kalah cuman untuk hias-hiasan aja tidak ada ritualnya,” ungkapnya.

Lebih dari sekadar penanda, pabayo mengandung makna filosofis mendalam. Ia melambangkan kesuburan, kesejahteraan, serta penghormatan kepada leluhur.

Namun di tengah modernisasi, keberadaan perajin pabayo kini semakin berkurang. Generasi muda dinilai mulai jarang mempelajari keterampilan ini, padahal pabayo tetap menjadi elemen penting dalam setiap ritual adat.

“Harapannya, kegiatan ini dapat menarik minat generasi muda untuk kembali mengenal dan melestarikan warisan budaya leluhur,” tukasnya.

Tags: Budaya Dayak Naik Dango ke-3 Kota Pontianak suku dayak

Continue Reading

Previous: Pontianak Raih Penghargaan Kota Toleran dari SETARA Institute
Next: KPAD Kota Pontianak Usul Blokir NIK Mantan Suami yang Lalai Nafkahi Anak

Related Stories

8623d426-4aff-4361-af63-64589d75d8da
  • Lokal
  • News

Wagub Krisantus Terima 18 Rekomendasi DPRD Kalbar atas LKPJ Gubernur 2025

Editor PI 13/05/2026
359442ac-b08c-4975-afaf-b6f27bc7e7ec
  • Lokal
  • News

Ria Norsan Optimistis Program MBG Putar Ekonomi Kalbar hingga Rp16,8 Miliar per Hari

Editor PI 13/05/2026
IMG_4865
  • Lokal
  • News

Sujiwo Komitmen Sukseskan Program MBG, Sebut Punya Banyak Manfaat

Editor PI 13/05/2026

Berita Terbaru

  • Wagub Krisantus Terima 18 Rekomendasi DPRD Kalbar atas LKPJ Gubernur 2025 13/05/2026
  • Ria Norsan Optimistis Program MBG Putar Ekonomi Kalbar hingga Rp16,8 Miliar per Hari 13/05/2026
  • Sujiwo Komitmen Sukseskan Program MBG, Sebut Punya Banyak Manfaat 13/05/2026
  • Pasien Pertama Kasus Hantavirus di Ketapang Meninggal Dunia, Sempat Dirawat di Rumah Sakit 13/05/2026
  • Berani Protes Juri LCC 4 Pilar MPR, Josepha Siswa SMAN 1 Pontianak Ditawari Beasiswa S1 ke China 13/05/2026
  • Edi Kamtono Sebut AI Bukan Ancaman, Tapi Peluang bagi Ekonomi Kreatif 13/05/2026

Pemkot

Categories

Baca Berita Lainnya

8623d426-4aff-4361-af63-64589d75d8da
  • Lokal
  • News

Wagub Krisantus Terima 18 Rekomendasi DPRD Kalbar atas LKPJ Gubernur 2025

Editor PI 13/05/2026
359442ac-b08c-4975-afaf-b6f27bc7e7ec
  • Lokal
  • News

Ria Norsan Optimistis Program MBG Putar Ekonomi Kalbar hingga Rp16,8 Miliar per Hari

Editor PI 13/05/2026
IMG_4865
  • Lokal
  • News

Sujiwo Komitmen Sukseskan Program MBG, Sebut Punya Banyak Manfaat

Editor PI 13/05/2026
IMG_4798
  • Lokal
  • News

Pasien Pertama Kasus Hantavirus di Ketapang Meninggal Dunia, Sempat Dirawat di Rumah Sakit

Editor PI 13/05/2026

Pontianak Informasi merupakan barometer informasi seputar Kota Pontianak yang berdiri sejak tahun 2005. Pontianak Informasi akrab dikenal oleh masyarakat Kota Pontianak dengan sebutan PI. Kanal informasi ini juga bagian dari PIFA MEDIA NETWORK.

  • Kebijakan Privasi
  • Kode Etik Jurnalistik
  • Pedoman Media Siber
  • Presiden Prabowo Instruksikan Pengaktifan Kembali Pengecer Gas LPG 3 Kg
  • Tentang PI
  • Kontak dan Iklan
  • Kebijakan Privasi
  • Kode Etik Jurnalistik
  • Pedoman Media Siber
  • PIFA Media Network
  • Tentang PI
  • Kontak dan Iklan
  • Kebijakan Privasi
  • Kode Etik Jurnalistik
  • Pedoman Media Siber
  • PIFA Media Network
Copyright © All rights reserved. | MoreNews by AF themes.