PM Jepang Geser Kursi dan Berbincang Hangat dengan Prabowo (Foto: Setpres)
PONTIANAK INFORMASI, Nasional – Dalam momen yang menarik perhatian publik di KTT APEC 2025, Perdana Menteri Jepang, Sanae Takaichi, terlihat menggeser kursinya dan mendekati Presiden Indonesia, Prabowo Subianto, untuk berbincang secara hangat. Kejadian ini terekam dalam rekaman video yang viral dan menunjukkan suasana keakraban di antara kedua pemimpin tersebut.
Dalam video tersebut, awalnya PM Jepang memperhatikan Prabowo yang sedang sibuk menulis dengan serius. Lalu, dengan sopan dan penuh keramahan, ia menggeser kursinya ke arah Prabowo. Hal ini menandakan niat kuat untuk menyapa dan menjalin interaksi langsung secara pribadi. Momen itu jelas menunjukkan keakraban dan hubungan yang bersahabat antara Indonesia dan Jepang.
Presiden Prabowo tampak sedikit terkejut saat PM Jepang mendekati, lalu langsung mengatupkan kedua tangannya sebagai gestur menyambut hangat. Kedua pemimpin kemudian saling berbincang ringan dalam situasi yang terlihat santai namun penuh makna diplomasi. Kehadiran Presiden Prabowo sendiri merupakan penegasan dari komitmen Indonesia dalam mendukung kerjasama ekonomi yang inklusif dan berkelanjutan di kawasan Asia Pasifik.
KTT APEC tahun ini diadakan di Korea Selatan, dan Prabowo Subianto bersama para pemimpin negara anggota lainnya mengikuti pertemuan Economic Leaders’ Meeting (AELM). Percakapan ringan antara PM Jepang dan Prabowo turut menjadi sorotan media internasional karena menunjukkan pendekatan diplomasi yang akrab dan penuh keramahan antar pemimpin kawasan.
Momen tersebut juga menjadi bukti pentingnya hubungan bilateral yang terus dipererat antara Indonesia dan Jepang, terutama di tingkat pemerintahan puncak. PM Sanae Takaichi dan Presiden Prabowo Subianto menunjukkan bahwa komunikasi personal dapat menjadi bagian penting dalam menjalin kerja sama antar negara dalam forum internasional sebesar APEC.
Dengan kehangatan hubungan dan momen sederhana seperti ini, diharapkan dapat membuka peluang diskusi dan kolaborasi yang lebih erat di masa depan, khususnya dalam bidang ekonomi dan pembangunan kawasan Asia Pasifik. Momen ini menjadi contoh bahwa diplomasi tidak selalu harus formal dan kaku, tetapi juga dapat berlangsung dalam suasana penuh keramahan.
