Foto: AFP
PONTIANAK INFORMASI, Internasional – Kebakaran besar yang melanda kompleks apartemen Wang Fuk Court di Tai Po, Hong Kong, pada Rabu, 26 November 2025, menyisakan duka mendalam bagi keluarga korban, terutama warga negara Indonesia (WNI) yang tinggal di sana. Hingga kini, sebanyak 22 WNI masih belum diketahui keberadaannya dan kondisinya masih belum dapat dipastikan, menurut laporan terbaru dari Kementerian Luar Negeri (Kemenlu) RI dan Konsulat Jenderal RI di Hong Kong.
KJRI Hong Kong memperbarui data bahwa dari total 140 WNI yang tinggal di kompleks apartemen tersebut, sebanyak 108 orang telah dinyatakan selamat, sembilan orang terkonfirmasi meninggal dunia, dan satu orang masih dirawat di rumah sakit. Sementara itu, jumlah WNI yang masih hilang terus berubah seiring perkembangan pencarian oleh otoritas Hong Kong dan tim pemulihan KJRI. “Estimasi jumlah WNI tinggal di kompleks apartemen adalah 140 orang, sebanyak 125 selamat, 9 terverifikasi meninggal dunia, 1 dirawat di RS, dan lima belum diketahui keberadaannya,” sebut KJRI Hong Kong kepada awak media.
Pencarian korban hilang terus dilakukan secara intensif oleh KJRI bekerja sama dengan Kepolisian Hong Kong dan pihak-pihak terkait lainnya. “KJRI terus berkoordinasi secara intensif dengan Kepolisian Hong Kong (HKPF), otoritas lokal lain, dan pihak terkait lain, termasuk untuk mengidentifikasi WNI yang masih hilang atau belum diketahui keberadaannya,” jelas KJRI Hong Kong seperti dilansir CNN Indonesia. Otoritas Hong Kong memperingatkan bahwa angka kematian dan jumlah korban hilang bisa bertambah seiring proses identifikasi yang masih berlangsung.
Kemenlu RI juga telah membentuk tim koordinasi keluarga untuk membantu pemulangan jenazah WNI korban kebakaran, serta memberikan pendampingan psikologis dan bantuan lainnya bagi keluarga korban. Seluruh WNI yang terdampak kebakaran tersebut merupakan pekerja migran di sektor domestik, yang tinggal di gedung apartemen yang terbakar hebat selama belasan jam.
Kebakaran dahsyat itu menyebabkan setidaknya 151 orang tewas, 79 orang terluka, dan puluhan lainnya hilang. Penyelidik menyebutkan bahwa perancah bambu dan lembaran plastik penutup jendela turut mempercepat penyebaran api hingga melalap beberapa lantai dalam hitungan menit. Sebanyak 14 orang dari pihak kontraktor utama, subkontraktor perancah, dan konsultan teknis telah ditahan terkait kasus kebakaran ini.
Pihak KJRI dan Kemenlu RI terus memberikan update terkini kepada publik dan keluarga korban, serta mengimbau agar masyarakat tetap tenang dan mengikuti informasi resmi dari pihak terkait. Upaya pencarian dan identifikasi korban hilang akan terus dilakukan hingga seluruh WNI dapat ditemukan dan dipastikan kondisinya.
Kasus kebakaran Hong Kong ini menjadi perhatian nasional dan internasional, mengingat banyaknya korban jiwa dan masih banyaknya WNI yang belum ditemukan. Pemerintah Indonesia berkomitmen untuk terus mendampingi dan membantu keluarga korban hingga proses pemulihan selesai.
