Foto: Dok Instagram @Kotabandaaceh
PONTIANAK INFORMASI, Politik – Bupati Aceh Selatan, Mirwan MS, menjadi sorotan publik setelah memilih berangkat umrah ke Mekah di tengah bencana banjir yang melanda wilayahnya. Keputusan tersebut menuai kritik keras dari Partai Gerindra, yang kemudian mengambil sikap tegas dengan mencopot Mirwan dari jabatan Ketua DPC Gerindra Aceh Selatan. Sekjen Gerindra, Sugiono, menyatakan bahwa keputusan ini diambil karena sikap dan kepemimpinan Mirwan dinilai tidak pantas saat daerah sedang dalam situasi darurat bencana.
Dalam pernyataan resmi, Mirwan menjelaskan bahwa kunjungannya ke Tanah Suci merupakan nazar pribadi yang telah direncanakan sebelumnya. Ia mengaku telah meninjau langsung lokasi terdampak banjir empat hari sebelum keberangkatannya dan memastikan semua OPD beroperasi sesuai prosedur. “Alhamdulillah, empat hari lalu saya turun langsung ke lokasi banjir di Trumon. Keadaan sudah lebih baik dan tidak separah daerah lain. Semoga kita selalu dalam lindungan Allah SWT,” ujar Mirwan dalam klarifikasinya.
Pihak Pemkab Aceh Selatan juga membela langkah Mirwan dengan menyatakan bahwa bupati hanya berangkat setelah situasi dianggap stabil dan penanganan korban banjir telah dilakukan secara maksimal. Namun, keputusan ini tetap menuai gelombang kritikan dari warga dan berbagai elemen masyarakat, terutama karena Aceh Selatan termasuk daerah yang paling parah terdampak banjir saat itu.
Kementerian Dalam Negeri (Kemendagri) turut menanggapi kejadian ini dengan menyesalkan keputusan Bupati Mirwan meninggalkan daerahnya di tengah kondisi darurat bencana. Benny Irwan, Kapuspen Kemendagri, menyatakan pihaknya tengah menelusuri lebih lanjut tindakan yang dilakukan Mirwan, termasuk soal surat larangan bepergian ke luar negeri yang baru diterima setelah Mirwan berangkat.
Gerindra menegaskan bahwa pencopotan Mirwan dari jabatan Ketua DPC merupakan bentuk penegakan disiplin partai. “Sangat disayangkan sikap dan kepemimpinan yang bersangkutan, oleh karena itu DPP Gerindra memutuskan untuk memberhentikan yang bersangkutan sebagai Ketua DPC Gerindra Aceh Selatan,” kata Sugiono.
Kasus ini menjadi sorotan nasional, mengingat konteks kepemimpinan di tengah bencana dan tanggung jawab publik yang harus dijunjung tinggi. Kritik terhadap Mirwan mencerminkan harapan masyarakat terhadap pemimpin yang hadir dan memberikan solusi di saat rakyat membutuhkan, bukan meninggalkan daerah di saat krisis.
