Foto: Dok. Detikcom/Muhammad Aminudin
PONTIANAK INFORMASI, Nasional – Banjir besar melanda Kota Malang pada awal Desember 2025 setelah hujan deras mengguyur wilayah tersebut selama beberapa jam. Sebanyak 39 titik terendam banjir, terutama di Kecamatan Sukun, Lowokwaru, dan Blimbing, dengan ketinggian air mencapai 1,5 meter di beberapa lokasi. Banyak warga terjebak di rumah mereka dan harus dievakuasi oleh petugas BPBD serta relawan.
Warga setempat seperti Suwarto dari Kelurahan Purwantoro mengungkapkan bahwa banjir kali ini merupakan yang paling parah dibandingkan dengan banjir beberapa tahun sebelumnya. “Banjir kali ini disebutnya terparah dibanding banjir beberapa tahun lalu. Suwarto tidak mengira, hujan yang terjadi siang hari itu akan menenggelamkan rumah kontrakannya,” dilansir dari Detik Jatim.
Kepala BPBD Kota Malang, Prayitno, menyatakan bahwa hujan intensitas lebat memicu debit air yang meningkat drastis di drainase dan sungai, menyebabkan luapan ke jalan dan pemukiman warga. “Hujan intensitas lebat pada Selasa (4/12) siang, memicu meningkatnya debit air pada drainase dan sungai di beberapa wilayah Kota Malang hingga terjadi luapan ke jalan maupun masuk ke pemukiman warga sehingga banyak yang terjebak di dalam rumah,” ujarnya, dilansir dari Detik Jatim.
Pemerintah setempat langsung mengaktifkan tim reaksi cepat dan menerjunkan pompa portable di titik-titik paling parah. Namun, karena debit air yang besar, proses penyedotan air tidak berjalan secepat yang diharapkan. Selain itu, petugas juga membersihkan saluran drainase yang tersumbat oleh sampah dan endapan sedimen, serta membuka beberapa titik pengungsian untuk warga yang terdampak.
Bantuan berupa selimut, makanan cepat saji, dan air minum langsung didistribusikan kepada warga yang mengungsi. Petugas BPBD dan relawan terus memantau kondisi di lapangan dan memastikan keselamatan warga yang masih terdampak banjir.
Banjir di Malang kali ini tidak hanya merendam rumah dan jalan, tetapi juga menyebabkan pohon tumbang di beberapa titik. Infrastruktur seperti listrik sempat padam di beberapa wilayah, menambah keresahan warga yang terdampak.
Pakar lingkungan menilai bahwa peningkatan frekuensi banjir di Malang Raya disebabkan oleh hilangnya resapan air akibat alih fungsi lahan dan buruknya sistem drainase. Dosen UMM menyarankan agar pemerintah segera menerapkan solusi mitigasi seperti pembuatan sumur resapan dan biopori agar banjir tidak terus berulang di masa depan.
