Gedung Putih kediaman Presiden Amerika Serikat (Foto: Getty Images)
PONTIANAK INFORMASI, Internasonal – Washington mendadak menjadi pusat perhatian dunia setelah Amerika Serikat mengundang puluhan kepala militer dari berbagai negara untuk berkumpul di ibu kota AS pada 11 Februari 2026. Pertemuan yang diprakarsai oleh Kepala Staf Gabungan Militer AS, Jenderal Dan Caine, melibatkan 34 pemimpin militer senior dari kawasan Amerika Latin dan sejumlah sekutu tradisional seperti Denmark, Inggris, dan Prancis. Langkah ini disebut sebagai salah satu pertemuan militer paling luas yang pernah diadakan Pentagon di kawasan Barat dalam beberapa dekade terakhir.
Menurut laporan The New York Times, para peserta diundang untuk memperkuat koordinasi keamanan regional, terutama dalam menghadapi perdagangan narkoba dan jaringan kriminal transnasional yang semakin meresahkan. Dalam pernyataan resminya, kantor Jenderal Caine menyebut bahwa “para pemimpin pertahanan yang hadir membahas pentingnya mitra yang kokoh, kolaborasi yang berkelanjutan, dan upaya kolektif melawan narkoba dan terorisme, serta aktor eksternal yang mengancam stabilitas kawasan.”
Selain isu narkoba, pertemuan ini juga dipahami sebagai upaya Washington untuk menekan pengaruh negara‑negara seperti China, Iran, dan Rusia di kawasan Amerika Latin. Adam Isacson, ahli keamanan dari Washington Office on Latin America (WOLA), mengatakan bahwa pemerintahan Presiden Donald Trump menuntut komitmen lebih tinggi dari militer di kawasan untuk merespons prioritas AS. “Pemerintahan Trump berharap agar militer di wilayah ini dapat merespons prioritas yang ditetapkan,” ujarnya, sebagaimana dilansir The New York Times.
Pertemuan yang awalnya direncanakan lebih awal sempat ditunda karena ancaman badai salju di Washington, namun tetap dipertahankan sebagai agenda strategis. Selain tantangan cuaca, koordinasi ini juga menghadapi rintangan diplomatik, termasuk ketegangan intelijen antara Inggris dan sejumlah negara Amerika Latin terkait operasi pengintaian kapal yang diduga terlibat dalam pengangkutan narkoba di kawasan Karibia.
Para analis menilai bahwa langkah AS ini menandai pergeseran kebijakan keamanan yang lebih agresif di kawasan Barat. Skala pertemuan yang melibatkan 34 kepala militer dianggap tidak lazim, mengingat sebelumnya Pentagon hanya menggelar pertemuan kecil dengan sejumlah negara terbatas. Ini adalah kali pertama Pentagon mengumpulkan sejumlah besar pejabat militer dari wilayah Barat.
Di tengah narasi resmi tentang kerja sama keamanan, sejumlah pengamat justru membaca adanya tekanan politik terselubung terhadap militer negara‑negara peserta. Isacson menambahkan bahwa ada kemungkinan ancaman yang jelas atau tersirat terhadap militer yang tidak mematuhi prioritas AS, terutama terkait situasi di Venezuela dan kerja sama dengan Iran serta Rusia.
