(Foto : Getty Images)
PONTIANAK INFORMASI, Internasional – Para pendeta dan biarawati yang berada di Gereja Keluarga Kudus, Gaza City, telah menegaskan komitmen mereka untuk tetap tinggal di kompleks gereja meskipun mendapat perintah evakuasi dari militer Israel. Komunitas ini memilih bertahan demi terus memberikan pelayanan kepada ratusan warga sipil yang berlindung di sana di tengah konflik yang semakin memanas.
Keputusan mereka muncul di tengah operasi militer besar-besaran Israel yang melancarkan serangan intensif untuk menguasai Kota Gaza. Perintah evakuasi yang dikeluarkan mengharuskan warga sipil, termasuk komunitas Kristen, meninggalkan kawasan ini dan pindah ke wilayah selatan Gaza. Namun para pendeta dan biarawati menilai evakuasi tersebut sama dengan “hukuman mati” bagi banyak pengungsi karena kondisi di Gaza yang sudah sangat sulit dan berbahaya.
Dalam pernyataan resmi yang dirilis oleh Patriarkat Ortodoks Yunani Yerusalem dan Patriarkat Gereja Latin Yerusalem, ditegaskan bahwa kompleks Gereja Keluarga Kudus telah menjadi tempat perlindungan aman bagi lansia, perempuan, anak-anak, dan penyandang disabilitas yang kekurangan gizi dan dalam kondisi lemah akibat krisis berkepanjangan di Gaza.
Para rohaniwan turut menegaskan, “Banyak dari mereka yang berlindung di kompleks Gereja adalah individu-individu yang rentan dan mengalami kekurangan gizi akibat kesulitan yang mereka hadapi dalam beberapa bulan terakhir.” Mereka menolak meninggalkan warga yang telah selama ini mereka layani, meskipun risiko serangan militer terus mengintai.
Pendeta dan biarawati menyatakan bahwa meskipun mereka menyadari risiko serangan udara yang bisa meningkat tiap hari, mereka tetap memilih tinggal di paroki masing-masing dan mengutamakan pelayanan kepada para pengungsi yang dianggap sebagai “orang-orang penting dalam kehidupan saya” sebagaimana dikatakan salah satu biarawati.
Seruan mereka ini juga mengingatkan dunia atas pentingnya menghormati hak masyarakat Palestina untuk hidup di tanah mereka sendiri tanpa dipaksa menjadi pengungsi. Dalam pernyataan bersama Patriarkat Latin dan Ortodoks, mereka mengutip momen penting seperti kata-kata Paus Leo XIV yang menegaskan bahwa tidak ada bangsa, sekecil apapun, yang layak dipaksa ke pengasingan.
Situasi di Gaza semakin mengerikan akibat konflik yang telah berlangsung sejak Oktober 2023, dengan puluhan ribu korban jiwa dan kerusakan besar pada infrastruktur serta hunian warga sipil. Dalam kondisi ini, keberadaan Gereja Keluarga Kudus sebagai tempat perlindungan menjadi sangat penting bagi warga yang terjebak dalam konflik ini.
