Foto: Antara
PONTIANAK INFORMASI, Internasional – Serangan pesawat nirawak atau drone di wilayah Kordofan, Sudan, telah menewaskan sedikitnya 104 warga sipil sejak awal Desember 2025. Serangan-serangan tersebut terjadi di tengah perebutan pangkalan militer oleh Pasukan Pendukung Cepat (RSF) di Babnusa, menyusul pertempuran sengit selama sepekan terakhir.
Al Jazeera melaporkan bahwa serangan drone menghantam wilayah tengah Kordofan, menargetkan kawasan sipil seperti taman kanak-kanak dan fasilitas kesehatan. Korban termasuk 43 anak-anak dan delapan perempuan, menurut laporan media internasional. Selain itu, serangan lanjutan juga menghantam Rumah Sakit Militer Dilling, menewaskan sembilan orang dan melukai 17 lainnya, termasuk tenaga medis.
Angkatan Bersenjata Sudan menuding RSF sebagai pihak yang bertanggung jawab atas serangan-serangan tersebut. “Serangan ini dengan jelas mengungkap pendekatan subversif dari milisi pemberontak dan pihak-pihak di baliknya,” ujar militer Sudan dalam pernyataan resmi.
WHO mencatat bahwa serangan drone juga menewaskan enam pasukan penjaga perdamaian PBB asal Bangladesh setelah pangkalan di Kadugli diserang pada 13 Desember. Liga Arab dan UNICEF turut mengecam serangan tersebut sebagai pelanggaran berat terhadap hukum humaniter internasional dan hak anak. Perwakilan UNICEF untuk Sudan, Sheldon Yett, menyatakan, “Anak-anak tidak seharusnya menanggung harga dari sebuah konflik. UNICEF mendesak semua pihak untuk segera menghentikan serangan dan membuka akses aman bagi bantuan kemanusiaan,” dilansir dari Anadolu Agency.
Situasi kemanusiaan di Sudan semakin memburuk akibat berulangnya serangan terhadap fasilitas kesehatan dan wilayah sipil. WHO dan organisasi kemanusiaan mengeluarkan seruan darurat bantuan medis dan donor darah, memperingatkan bahwa korban bisa terus bertambah seiring sulitnya akses medis dan komunikasi.
Pemerintah Sudan mengutuk serangan itu sebagai kejahatan perang, sementara Liga Arab mendesak penyelidikan serta akuntabilitas independen terhadap pelaku serangan. Konflik berkepanjangan antara militer Sudan dan RSF sejak April 2023 telah menewaskan puluhan ribu orang dan menyebabkan jutaan mengungsi.
Tragedi ini kembali menyoroti kekejaman perang saudara Sudan yang tak kunjung berakhir, serta semakin memperburuk krisis kemanusiaan di negara tersebut. Masyarakat internasional diharapkan segera mengambil langkah konkret untuk melindungi warga sipil dan menekan eskalasi kekerasan di Sudan.
