Pengungkapan kasus Grup WA LGBT Pontianak oleh KPPAD Kalbar. (Ilustrasi: Freepik)
PONTIANAKINFORMASI.CO.ID, LOKAL – Perilaku penyimpangan seksual, seperti seperti Lesbian, Gay, Biseksual dan Transgender (LGBT) mulai menjerat dunia pendidikan di Pontianak. Ketua KPPAD Kalimantan Barat, Eka Nurhayati mengungkapkan, tercatat ada 10 pelajar SMP di Kota Pontianak yang terlibat praktek menyimpang tersebut.
Hal ini terungkap ketika orang tua salah satu siswa melaporkan kepada sekolah, dimana orang tua tersebut menemukan sang anak menerima pesan undangan grup WhatsApp praktek menyimpang sesama siswa pria. Kemudian dari pihak sekolah melaporkan atas keresahan tersebut ke KPPAD Kalimantan Barat.
“Ada 10 siswa berasal dari SMP negeri yang berbeda di Pontianak yang terlibat dan melakukan praktek seks menyimpang. Bahkan hal ini dilakukan di area sekolah,” ungkap Eka Nurhayati, Jumat (21/5/25).
Menurut Eka, pihak sekolah sendiri tak mengetahui adanya praktek seks menyimpang yang dilakukan peserta didik tersebut. Dimana kasus ini terungkap ketika salah satu orang tua melaporkan kepada guru di sekolah.
Eka menyatakan, bahwa anak-anak ini masuk dalam komunitas LGBT tersebut berawal dari aplikasi Wallah. Di mana melalui aplikasi Wallah tersebut digunakan anak untuk membangun suatu jaringan komunitas praktek seks menyimpang.
“Mereka bertemu awalnya di aplikasi Walla, berujung dengan membuat grup WA dan akhirnya mereka janjian kopi darat untuk ketemu,” ujarnya.
“Kami ketika menerima laporan ini sangat terkejut, karena komunitas LGBT terbentuk dikalangan anak-anak di Kota Pontianak,” tambah Eka.
Eka mengatakan juga, atas temuan kasus praktek seks menyimpang ini, pihaknya telah memberikan pendampingan secara psikologi secara langsung untuk anak yang terlibat tersebut.
“Hingga kini kami masih melakukan pendampingan dan bekerjasama dengan guru bimbingan konseling (BK) di sekolah tersebut,” terang Eka.
Eka menyatakan pula, bahwa setelah dilakukan pendampingan 10 anak tersebut dikabarkan telah kembali normal. Namun ini diketahui hanya di saat di depan guru ataupun orang tua mereka, sedangkan saat diluar belum diketahui seperti apa.
