PONTIANAK INFORMASI.CO, Lokal – Teacher trainer asal Kabupaten Kubu Raya, Kalimantan Barat, Wahyudi Aksara, M.Pd., meraih penghargaan The Best Teaching Innovation dalam program Youth Abroad Expedition (YAE) #12 yang digelar di Malaysia. Penghargaan tersebut diberikan atas inovasi metode pembelajaran berbasis deep learning yang diterapkannya bersama tim di Sanggar Bimbingan Meru.
Penghargaan ini diberikan setelah Wahyudi dan tim menghadirkan pendekatan pembelajaran yang kreatif, kontekstual, dan adaptif bagi anak-anak Indonesia yang tinggal di Malaysia. Inovasi tersebut menitikberatkan pada pembelajaran aktif melalui visualisasi, permainan, serta simulasi yang melibatkan peserta didik secara langsung.
“Momen paling berkesan tentu saat saya dan tim mendapatkan penghargaan The Best Creative Content dan The Best Teaching Innovation. Penghargaan ini diberikan karena kami menerapkan pembelajaran dengan pendekatan deep learning. Kami membuat peta Indonesia berbasis mind map dan pertukaran budaya Indonesia–Malaysia. Anak-anak belajar dengan menempelkan baju adat, makanan khas, dan hewan dari berbagai daerah di Indonesia,” ungkapnya.
Dalam proses pelaksanaannya, Wahyudi menjelaskan bahwa inovasi pembelajaran yang diterapkan tidak dilakukan secara instan. Tim terlebih dahulu melakukan pemetaan kemampuan awal peserta didik agar metode yang digunakan sesuai dengan kebutuhan mereka.
“Sebelum pembelajaran, kami melakukan asesmen diagnostik untuk mengetahui kemampuan awal anak-anak. Proses belajar dilakukan melalui permainan, lalu ditutup dengan refleksi dan recall pengetahuan. Kami juga membuat simulasi pasar mini menggunakan uang rupiah mainan agar anak-anak belajar melalui role play,” jelasnya.
Penghargaan tersebut juga tidak terlepas dari kemampuan Wahyudi dalam mengelola tantangan di lapangan, khususnya terkait keberagaman latar belakang dan kemampuan belajar peserta didik di Sanggar Bimbingan Meru.
“Tantangan terbesar adalah heterogenitas peserta didik. Anak-anak di Sanggar Bimbingan Meru adalah anak-anak imigran dengan latar belakang yang sangat beragam. Ada yang usianya sudah belasan tahun, tetapi kemampuan literasinya masih sangat dasar. Di dalam satu kelas, karakter dan kebutuhan belajarnya sangat berbeda,” tuturnya.
Untuk menjawab tantangan tersebut, Wahyudi memilih pendekatan pembelajaran yang lebih fleksibel dan menyenangkan agar anak-anak tetap nyaman mengikuti proses belajar.
“Karena itu, pendekatan yang saya gunakan adalah fun learning berbasis simulasi dan permainan. Pembelajaran dibuat sangat visual, interaktif, dan kontekstual. Media, game edukatif, dan aktivitas praktik menjadi kunci agar anak-anak lebih mudah memahami materi dan tetap merasa nyaman dalam belajar,” katanya.
Selain perbedaan karakter peserta didik, penyesuaian juga dilakukan pada aspek kurikulum. Anak-anak Indonesia di Malaysia masih menggunakan Kurikulum 2013, sementara di Indonesia telah beralih ke Kurikulum Merdeka.
“Selain itu, kurikulum juga berbeda. Anak-anak Indonesia di Malaysia masih menggunakan Kurikulum 2013, sementara di Indonesia kita sudah menggunakan Kurikulum Merdeka dengan pendekatan deep learning. Maka dari segi metode, teknik, dan strategi pembelajaran tentu perlu penyesuaian. Saya harus lebih fleksibel dan adaptif agar pembelajaran tetap bermakna bagi mereka,” jelasnya.
Keberhasilan tersebut turut didukung oleh latar belakang akademik dan pengalaman profesional Wahyudi. Ia merupakan lulusan Magister Pendidikan Bahasa Indonesia Universitas Tanjungpura, aktif sebagai guru, penulis buku pelajaran, content creator pendidikan, serta teacher trainer yang memberikan pelatihan di berbagai daerah di Indonesia.
“Selain mengajar, saya juga aktif menulis buku mata pelajaran dan membuat konten edukatif di media sosial. Konten yang saya bagikan berfokus pada isu-isu pendidikan, tips dan trik mengajar, metode pembelajaran terbaru, serta pendekatan pembelajaran yang relevan dengan karakter guru muda saat ini lebih interaktif, kontekstual, dan menyenangkan. Saat ini saya juga aktif sebagai teacher trainer yang berkeliling memberikan pelatihan dan inspirasi bagi guru-guru di berbagai daerah di Indonesia,” tuturnya.
Meski telah banyak berkecimpung sebagai pelatih guru, Wahyudi menilai keterlibatannya langsung di lapangan justru menjadi ruang pembelajaran yang penting bagi dirinya.
“Sebagai seorang teacher trainer, justru saya merasa penting untuk tetap ‘mengosongkan gelas’. Ilmu pendidikan itu hidup, tumbuh dari praktik langsung, bukan hanya dari ruang pelatihan atau forum formal. Itulah yang membuat saya terpanggil untuk ikut program ini. Saya ingin kembali ke ruang paling dasar dalam pendidikan: bertemu langsung dengan anak-anak dan belajar dari realitas mereka,” ungkapnya.
