Foto: flickr/tomorixwb
PONTIANAK INFORMASI, Nasional – Pesawat ATR 42-500 milik PT Indonesia Air Transport (IAT) yang hilang kontak pada Sabtu (17/1/2026) saat terbang dari Yogyakarta ke Makassar telah dikonfirmasi jatuh di lereng Gunung Bulusaraung, Kabupaten Maros, Sulawesi Selatan. Puing pesawat tersebar di beberapa titik, termasuk jendela, badan, hingga ekor, dengan satu jenazah korban ditemukan di jurang sedalam 200 meter.
Direktur Utama PT Tri menyatakan, “Kami ingin mengklarifikasi dari PT Indonesia Air Transport bahwa kru dalam pesawat berjumlah tujuh orang.” dilansir dari Kompas.com. Sementara itu, data awal menyebutkan pesawat mengangkut delapan kru dan tiga pejabat Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) yang sedang menjalankan pengawasan udara maritim.
Kepala Kantor Basarnas Makassar, Muhammad Arif Anwar, mengatakan, “Siang tadi telah ditemukan satu korban jenis kelamin laki-laki pada kedalaman jurang kurang lebih 200 meter. (korban) berada di sekitar serpihan pesawat. Saat ini sedang berlangsung proses evakuasi,” dilansir dari Antara News. Jenazah tersebut dievakuasi melalui teknik tali-temali vertikal rescue di medan curam ketinggian 1.200 meter di atas permukaan laut.
Operasi SAR gabungan yang melibatkan 376 personel dari Basarnas, TNI, Polri, dan Mapala terus berlangsung hingga hari ini, Senin (19/1/2026), melalui jalur udara dan darat dengan bantuan helikopter serta drone. Cuaca buruk menjadi kendala utama, memaksa tim memperluas wilayah pencarian di kawasan Pegunungan Leang-Leang yang sulit diakses.
Dilansir dari detik.com, Kepala KNKT Soerjanto Tjahjono menduga kecelakaan disebabkan Controlled Flight Into Terrain (CFIT), di mana pesawat menabrak gunung karena Emergency Locator Transmitter (ELT) rusak akibat benturan. “Ada namanya ELT, Emergency Locator Transmitter, tapi dengan kejadian kalau dia nabrak gunung, itu biasanya ELT-nya tidak bekerja karena hancur juga,” ujarnya.
Captain Edwin dari IAT mengakui adanya masalah kecil pada mesin sehari sebelumnya, tepatnya Jumat (16/1/2026), yang sudah diperbaiki setelah dites. Produsen ATR kini turut membantu investigasi bersama KNKT dan Kementerian Perhubungan untuk mengungkap black box dan data penerbangan.
Hingga kini, sembilan korban lainnya masih dalam penyisiran intensif, dengan harapan cuaca membaik untuk mempercepat evakuasi. Insiden ini menambah daftar kecelakaan penerbangan di Indonesia, menekankan pentingnya perawatan pesawat dan teknologi keselamatan. Pemerintah pusat menyatakan duka cita mendalam dan mendukung penuh proses investigasi.
