Foto: Antara
PONTIANAK INFORMASI, Nasional – Presiden Prabowo Subianto menyampaikan candaan ringan mengenai pengalamannya bertarung dalam empat kali pemilu presiden, di mana ia kalah sebanyak tiga kali. Pernyataan ini disampaikan saat pidato dalam Perayaan Natal Nasional 2025 di Lapangan Tenis Indoor Senayan, Jakarta, pada Senin (5/1/2026).
Dalam kesempatan tersebut, Prabowo berkelakar bahwa salah satu faktor kekalahannya adalah minimnya dukungan dari Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman (saat itu) Luhut Binsar Pandjaitan, yang kini menjabat sebagai Ketua Dewan Ekonomi Nasional (DEN). “Empat kali ikut pemilu, tiga kali kalah. Soalnya waktu itu Pak Luhut nggak dukung saya sih,” ujar Prabowo, dilansir dari Kompas.tv. Luhut sendiri hadir di acara tersebut, menambah nuansa humor pada sambutan presiden.
Sebelum menyentuh topik tersebut, Prabowo awalnya membahas program prioritas pemerintahannya, yaitu Makan Bergizi Gratis (MBG). Ia menepis tudingan bahwa program tersebut hanyalah strategi politik untuk Pilpres 2029. “Saudara-saudara, dan ada yang nuduh, ada Bowo Prabowo bikin MBG ini supaya nanti 2029 dia dipilih kembali. Selalu berpikir negatif,” katanya.
Prabowo menegaskan bahwa segala keputusan akhir berada di tangan rakyat dan kehendak Tuhan. “Tapi kalau rakyat milih saya tahun 2029 apa salah saya? Iya kan? Kalau Tuhan mengizinkan. Kalau Tuhan tidak mengizinkan saya buat apa saja tidak akan terjadi, bener nggak?” tambahnya.
Pada kesempatan Natal tersebut, Prabowo juga mengutip ajaran Alkitab untuk menekankan nilai persatuan di tengah dinamika politik yang keras. Ia merujuk Matius 5:39, “Ditampar pipi kiri, berikan pipi kanan,” sebagai panduan untuk memaafkan dan menghindari dendam. “Forgive us our trespassers as we forgive those that trespass against us,” lanjutnya.
Lebih lanjut, presiden menekankan pentingnya mencari kebaikan daripada perpecahan. Meski pernah kalah Pilpres beberapa kali, Prabowo mengaku tidak menyimpan sakit hati atau kebencian. “Aku kalah pilpres beberapa kali itu, udah lupa. Tapi tidak ada masalah. Tidak boleh kita sakit hati. Tidak boleh dendam,” ujarnya.
