PONTIANAK INFORMASI – Fakultas Kedokteran Universitas Tanjungpura (Untan) resmi menambah dua program studi baru, yakni Program Studi Anestesiologi dan Terapi Intensif Program Spesialis serta Program Studi Ilmu Farmasi Program Magister.
Peluncuran dua prodi baru itu dilakukan langsung oleh Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi RI, Fauzan, di Hotel Mercure Pontianak, Selasa (19/5).
Fauzan mengatakan percepatan pendidikan dokter spesialis dan subspesialis merupakan program nasional yang digagas Presiden untuk menjawab kebutuhan tenaga kesehatan di daerah.
“Di Untan hari ini yang sudah dinyatakan lolos adalah program spesialis anestesi dan program magister farmasi,” kata Fauzan.
Menurutnya, pembukaan program tersebut disesuaikan dengan kebutuhan daerah, khususnya untuk memperkuat sumber daya kesehatan di Kalimantan Barat.
Ia berharap para peserta Program Pendidikan Dokter Spesialis (PPDS) nantinya kembali mengabdi ke daerah asal setelah menyelesaikan pendidikan.
“Tentu ini tidak bisa dijalankan tanpa kolaborasi pemerintah daerah tingkat provinsi, kabupaten/kota, dan kampus. Ini menjadi ekosistem yang harus dibangun untuk mempercepat pemenuhan dokter spesialis,” ujarnya.
Fauzan menyebut kebutuhan dokter anestesi di Pontianak dan Kalbar masih tinggi. Saat ini, jumlah tenaga anestesi yang tersedia baru memenuhi sekitar sepertiga dari kebutuhan layanan kesehatan.
Karena itu, pemerintah juga mengatur agar peserta PPDS mendapatkan rekomendasi dari daerah dengan harapan mereka kembali bertugas di wilayah asal setelah lulus.
“Program ini bukan hanya meningkatkan mutu SDM kesehatan, tetapi juga mengatasi persoalan distribusi dokter spesialis,” katanya.
Sementara itu, Rektor Universitas Tanjungpura, Garuda Wiko, mengatakan pembukaan prodi spesialis anestesi menjadi langkah awal Untan dalam menyelenggarakan pendidikan dokter spesialis.
“Kami mendapat mandat dari kementerian untuk menyelenggarakan beberapa program spesialis, dan yang pertama diluncurkan adalah anestesi,” kata Garuda.
Ia berharap kehadiran prodi tersebut dapat membantu memenuhi kebutuhan dokter spesialis anestesi di Kalbar sekaligus meningkatkan kualitas layanan kesehatan masyarakat.
Garuda menambahkan, Untan juga menjalin kemitraan dengan Universitas Sebelas Maret sebagai fakultas pembina untuk mendampingi pengembangan program spesialis tersebut.
Sejak awal, kata Garuda, Fakultas Kedokteran Untan dibangun untuk memenuhi kebutuhan dokter di daerah. Karena itu, kerja sama dengan pemerintah kabupaten dan kota terus diperkuat, termasuk dalam pengiriman dokter untuk mengikuti pendidikan spesialis.
“Dokter yang dikirim daerah nantinya harus kembali bertugas di daerah asal setelah menyelesaikan pendidikan,” ujarnya.
Sementara itu, Dekan Fakultas Kedokteran Untan, Ita Armayanti mengatakan, kuota penerimaan mahasiswa masih terbatas, maksimal lima orang per tahun karena status program yang masih baru.
Untan menargetkan proses penerimaan mahasiswa dimulai dalam enam bulan ke depan untuk tahun ajaran 2026 melalui seleksi berkas hingga wawancara.
Ita mengatakan prodi anestesi dipilih karena menjadi kebutuhan prioritas di Kalimantan Barat. Bahkan di beberapa daerah seperti Kapuas Hulu masih belum memiliki dokter anestesi tetap.
“Kalau tindakan bedah tidak ada anestesi, maka layanan itu tidak bisa diklaim BPJS. Itu sebabnya kebutuhan SDM anestesi masih menjadi pekerjaan rumah besar,” ujarnya.
Selain itu, FK Untan juga berbagi peran dengan RSUD Dokter Soedarso yang saat ini tengah mengembangkan program pendidikan dokter spesialis berbasis rumah sakit, termasuk spesialis jantung dan pembuluh darah serta bedah.
