Ketum PSI, Kaesang Pangarep dan kadernya Ade Armando (kiri). (x @adearmando61)
Pegiat media sosial Ade Armando mengungkap adanya tekanan internal di tubuh Partai Solidaritas Indonesia (PSI) yang mendorong dirinya untuk dikeluarkan dari partai, jauh sebelum ia resmi mengundurkan diri.
Pernyataan itu disampaikan Ade dalam sebuah wawancara siniar di kanal YouTube Zulfan Lindan Unpacking, Senin (11/5). Ia menyebut sudah mendengar kabar adanya dorongan dari internal partai agar dirinya tidak lagi berada di PSI.
“Sebetulnya, saya sudah dengar suara-suara di dalam PSI yang mengatakan bahwa saya harus diberhentikan, dikeluarkan,” ujar Ade.
Ade mengeklaim, ada anggapan bahwa kehadirannya di PSI menghambat upaya rebranding partai dan berdampak pada citra politik PSI di mata pemilih tertentu, termasuk pemilih Muslim.
Meski demikian, ia mengaku belum pernah mendapatkan permintaan langsung untuk keluar dari partai, namun isu tersebut sudah lama ia dengar dari lingkungan internal.
Ia juga menyinggung perubahan arah politik PSI yang menurutnya berupaya meningkatkan elektabilitas dengan strategi baru, termasuk memanfaatkan pengaruh Presiden ke-7 RI Joko Widodo untuk menarik dukungan pemilih.
Menurut Ade, perubahan tersebut membuat sebagian nilai lama PSI seperti pluralisme dan kebinekaan mulai bergeser dalam praktik politik partai.
Dalam kesempatan yang sama, Ade juga menyinggung kasus hukum dugaan penghasutan dan ujaran kebencian yang menjerat dirinya, yang ia sebut sebagai salah satu faktor yang mempercepat keputusannya mundur dari partai.
Menanggapi hal itu, Ketua DPP PSI Bidang Politik Bestari Barus menegaskan bahwa setelah Kongres PSI di Solo, Ade Armando tidak lagi terlibat dalam struktur kepengurusan partai secara aktif dan hanya berstatus anggota biasa.
Bestari juga menyarankan agar Ade fokus pada proses hukum yang sedang dijalani dan tidak lagi mencampuri urusan internal partai.
