Kaesang Pangarep Ketua Umum PSI (Foto : Youtube PSI)
PONTIANAK INFORMASI, Politik – Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) melontarkan kritik keras terhadap proses pemilihan Ketua Umum Partai Solidaritas Indonesia (PSI) yang baru-baru ini dimenangkan oleh Kaesang Pangarep, putra bungsu Joko Widodo (Jokowi). Politikus PDIP, Guntur Romli, menyamakan pemilihan tersebut dengan praktik “sepak bola gajah,” istilah yang menggambarkan pertandingan yang dimainkan dengan manipulasi skor demi mengatur hasil tertentu. Pernyataan ini disampaikan Guntur dalam wawancara dengan Kompas.com, Senin 21 Juli 2025.
Guntur menegaskan bahwa hasil pemilihan ketua umum PSI sudah ditentukan jauh sebelum pemungutan suara dimulai. “Seperti yang saya tegaskan 1 bulan sebelum ini, ketum PSI itu pasti Kaesang. Pemilihan ketum PSI seperti sepak bola gajah, semua sudah diatur, termasuk siapa yang menang dan sudah ditentukan siapa pemenangnya sebelum kompetisi dimulai,” ujarnya secara tegas. Hal ini menimbulkan pertanyaan soal keterbukaan dan demokrasi internal PSI.
Lebih jauh, kritik ini juga menyentuh pernyataan Jokowi yang menepis anggapan bahwa PSI adalah partai milik keluarga. Guntur mengingatkan bahwa Kaesang yang terpilih sebagai ketua umum merupakan putra bungsu Jokowi, sehingga sulit menghilangkan kesan ada pengaruh keluarga di balik kemenangan tersebut. Pernyataan itu dinilai bertolak belakang dengan klaim Jokowi bahwa PSI adalah partai terbuka dan bukan milik elit atau keluarga.
Di sisi lain, PSI memilih untuk tidak menanggapi panasnya sindiran dari PDIP. Partai berlambang gajah itu tampak memilih sikap tenang dan fokus pada konsolidasi internal setelah pemilihan ketua umum baru. Sikap ini menunjukkan PSI enggan terlibat dalam perdebatan yang dianggap mengganggu stabilitas partai menjelang agenda politik berikutnya.
Kaesang sendiri resmi terpilih sebagai Ketua Umum PSI periode 2025-2028 setelah mengungguli dua pesaingnya, Ronald Asinaga dan Agus Muliono Harlambang di pemilihan raya partai. Keberhasilan Kaesang didukung pula oleh keterlibatan Jokowi dalam acara kongres PSI, yang dinilai membantu melejitkan kepopuleran putranya dalam dunia politik.
Wakil Ketua Komisi II DPR RI dari Fraksi PDIP, Aria Bima, juga memberikan sinyal keprihatinan terkait proses ini. Ia mempertanyakan konsistensi PSI yang selama ini mengklaim proses terbuka dan demokratis, namun akhirnya justru memenangkan sosok dengan keterkaitan keluarga dekat Jokowi. Hal ini memicu kontroversi dan perdebatan di kalangan politikus dan pengamat politik.
Sindiran keras PDIP terhadap pemilihan ketum PSI ini menambah rumit peta politik di tengah persaingan yang semakin ketat antara partai-partai besar di Indonesia. Meski demikian, PSI memilih sikap tidak ribut, menandakan mereka ingin fokus menjalankan program partai tanpa terjebak dalam polemik yang dinilai mengganggu proses politik internal mereka.
